Majlis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas telah mengeluarkan fatwa haram mengenai pakaian bagi wanita yang maseh memperlihatkan bentuk lekuk tubuh. (Ketat) Hal ini termasuk bagi wanita yang memakai tudung, jilbab, namun mengenakan pakaian yang ketat memperlihatkan bentuk tubuh.
Dengan itu, MUI mengimbau agar setiap muslimah yang sudah mengenakan jilbab untuk lebih memperhatikan cara berpakaian nya.
http://news.liputan6.com/read/2087827/mui-haramkan-jilboobs
Ini adalah satu langkah positif oleh MUI dalam menganjurkan wanita muslimah supaya berpakaian sopan yakni pakaian yang syar'i sepertimana telah di jelaskan dalam alQur'an dan as-Sunnah Nabi-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman;
'Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka."
[QS. Al-Ahzaab:59]
Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;
"Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum kulihat: Satu kaum yang bersamanya ada cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul hamba-hamba Allah dengannya dan wanita-wanita yang berpakaian (namun seperti) telanjang, berlenggang lenggok, diatas kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk shurga dan tidak mencium dari jarak seperti ini dan seperti ini." [HR. Muslim].
Semoga Allah Ta'ala memberi hidayah dan taufik kepada majlis Ugama negara kita (Muis) dan juga negeri negeri lainnya mengorak langkah mengadopsi hukum syariat ini.... Ameen..
Jalan Kebenaran Hanya Satu. “Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147) "Barangsiapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun." (HR Muslim)
SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....
August 8, 2014
Dosa yang amat buruk; Berpaling dari al Quran.
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah ummat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran). Barangsiapa yang berpaling dari al-Quran, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar dihari Kiamat, mereka kekal didalam keadaan itu. Dan amat buruk lah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari Kiamat." [QS. Thaahaa: 99-101].
Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya sebagaimana yang telah Dia ceritakan tentang peristiwa yang terjadi antara Musa dan Fir'aun dan bala tenteranya secara jelas dan benar-benar terjadi. Dan juga Allah telah menceritakan berita-berita yang telah terjadi dimasa lalu, tanpa penambahan dan pengurangan. Yaitu peringatan yang turun dari-Nya berupa Al Quran, sebuah kitab yang tidak ada kebathilan, baik dari depan maupun belakangnya. Kitab yang turun dari Allah yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, yang Dia tidak pernah berikan kepada seorang Nabi pun sebelumnya sebuah kitab yang serupa dengannya atau bahkan yang lebih sempurna dari itu dan lebih lengkap tentang berita yang telah lalu dan yang akan terjadi serta hukum yang menyelesaikan (urusan) antara manusia dari sejak awal para Nabi diutus hingga akhirnya ditutup oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
'Barangsiapa yang berpaling dari al-Quran', mendustakan dan enggan mengikutinya dan malah mencari petunjuk kepada selainnya, maka Allah akan menyesatkannya dan akan menghantarkannya ke Neraka Jahim. Dalam ayat yang lain Allah berfirman, "Dan barangsiapa diantara mereka (orang-orang Quraish) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Quran, maka Nerakalah tempat yang diancam kan baginya." [QS. Huud:17].
Yang demikian itu bersifat umum yang berlaku kepada sesiapa saja yang sudah pernah sampai kepadanya al-Quran, baik masyarakat Arab maupun bukan Arab, Ahlul Kitab maupun yang lainnya. Sebagaimana firman-Nya ; "Supaya dengannya Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran (kepadanya). [QS. Al- An'naam: 19].
Dengan demikian, setiap orang yang sudah pernah sampai kepadanya al-Quran, berarti ia telah diberi peringatan dan seruan olehnya. Barangsiapa mengikutinya ia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang menentang dan berpaling darinya, maka ia akan sesat dan akan mengalami kesengsaraan didunia, dan di Neraka merupakan tempat yang diancam kan kepadanya pada hari Kiamat kelak. Apa yang mereka bawa itu benar-benar beban yang sangat buruk. Allahul Musta'an ..
Ref: Tafsir Ibnu Katsir
Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya sebagaimana yang telah Dia ceritakan tentang peristiwa yang terjadi antara Musa dan Fir'aun dan bala tenteranya secara jelas dan benar-benar terjadi. Dan juga Allah telah menceritakan berita-berita yang telah terjadi dimasa lalu, tanpa penambahan dan pengurangan. Yaitu peringatan yang turun dari-Nya berupa Al Quran, sebuah kitab yang tidak ada kebathilan, baik dari depan maupun belakangnya. Kitab yang turun dari Allah yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, yang Dia tidak pernah berikan kepada seorang Nabi pun sebelumnya sebuah kitab yang serupa dengannya atau bahkan yang lebih sempurna dari itu dan lebih lengkap tentang berita yang telah lalu dan yang akan terjadi serta hukum yang menyelesaikan (urusan) antara manusia dari sejak awal para Nabi diutus hingga akhirnya ditutup oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
'Barangsiapa yang berpaling dari al-Quran', mendustakan dan enggan mengikutinya dan malah mencari petunjuk kepada selainnya, maka Allah akan menyesatkannya dan akan menghantarkannya ke Neraka Jahim. Dalam ayat yang lain Allah berfirman, "Dan barangsiapa diantara mereka (orang-orang Quraish) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Quran, maka Nerakalah tempat yang diancam kan baginya." [QS. Huud:17].
Yang demikian itu bersifat umum yang berlaku kepada sesiapa saja yang sudah pernah sampai kepadanya al-Quran, baik masyarakat Arab maupun bukan Arab, Ahlul Kitab maupun yang lainnya. Sebagaimana firman-Nya ; "Supaya dengannya Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran (kepadanya). [QS. Al- An'naam: 19].
Dengan demikian, setiap orang yang sudah pernah sampai kepadanya al-Quran, berarti ia telah diberi peringatan dan seruan olehnya. Barangsiapa mengikutinya ia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang menentang dan berpaling darinya, maka ia akan sesat dan akan mengalami kesengsaraan didunia, dan di Neraka merupakan tempat yang diancam kan kepadanya pada hari Kiamat kelak. Apa yang mereka bawa itu benar-benar beban yang sangat buruk. Allahul Musta'an ..
Ref: Tafsir Ibnu Katsir
August 7, 2014
Kerasnya Hati kerana 4 hal.
Ibnu Qayyim berkata; "Kerasnya hati kerana empat hal yang melampaui batas keperluan:
makan, tidur, berbicara, dan berkumpul. Sepertinya halnya badan, jika sakit maka tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, begitu juga hati jika sakit kerana syahwat maka segala nasehat tidak akan mampu menembusnya."
Dari; Al-Fawa'id oleh Ibnu Qayyim bab Sekilas Hati hal 130
4 Kelompok yang akan mengemukakan alasan di hari Kiamat.
"Ada 4 kelompok yang akan mengemukakan alasan pada hari Kiamat kelak; yaitu 1) orang yang tuli yang tidak mendengar sesuatu apa pun, 2) orang bodoh, 3) orang yang sudah lanjut usia, dan 4) orang yang meninggal dun sia pada masa fatrah (dimana ia belum pernah mendapat seruan dakwah).
Adapun orang tuli akan berkata: 'Ya Rabb-ku, Islam telah datang, tetapi aku tidak mendengar suatu apa pun.' Sedangkan orang bodoh akan berkata: 'Ya Rabb-ku Islam telah datang, sedang anak-anak melempariku dengan kotoran unta.' Dan orang yang sudah lanjut usia akan mengataka: 'Ya Rabb-ku, Islam telah datang sedangkan aku tidak dapat berfikir apa-apa.'
Sedangkan orang yang meninggal pada masa fatrah (dimana ia belum pernah memperoleh seruan dakwah) akan mengatakan: 'Ya Rabb-ku, belum datang kepadaku seorang Rasul utusan-Mu.'
Kemudian Allah Ta'ala mengambil janji agar mereka benar-benar mentaati-Nya. Lalu Dia mengirim utusan kepada mereka (untuk menyampaikan perintah) : 'Masuklah kalian ke Neraka.' Demi Yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, seandainya mereka memasukinya, Neraka itu akan terasa dingin dan aman sentosa baginya.'"
[HR. Imam Ahmad dari al-Aswad bin Sari'.]
Ref: tafsir Ibnu Katsir; 17:15.
Adapun orang tuli akan berkata: 'Ya Rabb-ku, Islam telah datang, tetapi aku tidak mendengar suatu apa pun.' Sedangkan orang bodoh akan berkata: 'Ya Rabb-ku Islam telah datang, sedang anak-anak melempariku dengan kotoran unta.' Dan orang yang sudah lanjut usia akan mengataka: 'Ya Rabb-ku, Islam telah datang sedangkan aku tidak dapat berfikir apa-apa.'
Sedangkan orang yang meninggal pada masa fatrah (dimana ia belum pernah memperoleh seruan dakwah) akan mengatakan: 'Ya Rabb-ku, belum datang kepadaku seorang Rasul utusan-Mu.'
Kemudian Allah Ta'ala mengambil janji agar mereka benar-benar mentaati-Nya. Lalu Dia mengirim utusan kepada mereka (untuk menyampaikan perintah) : 'Masuklah kalian ke Neraka.' Demi Yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, seandainya mereka memasukinya, Neraka itu akan terasa dingin dan aman sentosa baginya.'"
[HR. Imam Ahmad dari al-Aswad bin Sari'.]
Ref: tafsir Ibnu Katsir; 17:15.
August 1, 2014
Bolehkah Mengkhususkan Berkunjung pada Hari Raya?
Oleh : Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah;
Pertanyaan:
Kami mendengar bahwa saling berkunjungnya manusia pada hari raya merupakan bid’ah. Maka kami berharap penjelasan hukum yang berkaitan dengan berkunjung kepada saudara dan apa yang dilakukan oleh manusia pada hari raya?
Jawaban :
Kami telah mengatakan berkali-kali dan berulang-ulang sehingga tidak butuh rincian. Maka kami katakan secara ringkas:.Berkunjung yang dilakukan oleh orang hidup kepada orang yang telah meninggal (ziyarah kubur -pent) pada hari raya (atau sehari sebelumnya -pent) termasuk bid’ah, sebab (hal ini) mengkhususkan sesuatu yang dimutlakkan oleh peletak syari’at (Allah Subhanahu wa Ta’ala).Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ، أَلَا فَزُوْرُوْهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ.Dahulu aku pernah melarang kalian ziyarah kubur, sekarang berziyarahlah karena hal itu akan mengingatkan kalian kepada kehidupan akherat. (HR. Muslim no. 1977 dan selainnya -pent).Jadi sabda beliau: ‘Berziyarahlah!’ Ini adalah perintah yang umum, sehingga tidak boleh dikhususkan pada waktu atau tempat tertentu. Karena mengkhususkan nash (dalil) atau memutlakkannya bukan hak manusia, tetapi merupakan hak Rabbul Alamin yang telah memberikan beban syariat kepada Rasul-Nya yang mulia dengan berfirman:وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ.Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan untuk mereka itu. (QS. An-Nahl: 44).Jadi, tidak ada sebuah nash yang bersifat mutlak (umum) padahal sebenarnya ada pengkhususan, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi was sallam pasti akan menjelaskannya. Dan bila ada sebuah nash pun yang bersifat umum padahal sebenarnya dikhususkan, pasti beliau khususkan, sedangkan yang tidak beliau khususkan berarti tidak bersifat khusus..Ketika beliau mengatakan: ‘Berkunjunglah!’ Maka ini bersifat mutlak pada semua hari-hari dalam setahun, tidak ada perbedaan antara satu hari dengan hari yang lain, juga tidak ada perbedaan antara satu waktu dengan waktu yang lain dalam sehari, jadi boleh pagi atau sore atau siang atau malam dan seterusnya..Maka demikian juga kami katakan: sebagaimana berkunjung yang dilakukan oleh orang hidup kepada orang yang telah meninggal (ziyarah kubur) pada hari raya secara khusus, demikian juga kunjungan yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada yang orang lainnya secara khusus, hukumnya sama seperti berkunjung yang dilakukan oleh orang yang hidup kepada orang yang telah meninggal (yaitu bid’ah).
Sumber audio dan transkrip: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=20509
Unduh Audio di sini
Alih bahasa: Abu Almass
Kamis, 26 Ramadhan 1435 H
(Diksi telah diedit oleh redaksi tanpa mengubah makna) sumber: ibnutaimiyyah.org
Subscribe to:
Posts (Atom)