SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....

March 6, 2015

Jangan sia-siakan amalammu.. Ikuti Sunnah

"Barangsiapa yang benci dengan Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku."
(HR. Muttafaq 'Alaih) 

"Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan darinya, maka hal itu tertolak." 
(HR. Muttafaq 'Alaih)

"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka hal itu tertolak." (HR. Muslim) Dan

"Barangsiapa yang membuat suatu perkara yang tidak ada perintahnya dari kami, maka hal itu tertolak." (HR. Abu Daud)

Semua perbuatan, amalan yang bukan dari Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, perkara-perkara bid'ah,tertolak, sia-sia saja, tidak dapat pahala. Allahul Musta'an.
Petikan: Targhib wa Tarhib; Ibnu Hajar al-Asqalani di syarahkan Sariyah Abdul Karim Ar-Rifa'i

Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlepas diri dari perbuatan mereka!

Bagaimana mungkin manusia mengadu dan meminta tolong pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bila beliau tidak ada kuasa atas dirinya sendiri?
"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah."  [QS. Al-A'raf: 188]

Sebab itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam, berlepas diri daripada apa yang mereka buat, yakni  majlis-majlis 'cinta' sambil menyeru meminta sesuatu yang mustahil terkabul. Allah juga berfirman kepada beliau,
"Katakanlah, 'Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat."  [QS. Al-An'am: 50]

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri tidak ada seorang pun yang dapat melindungi beliau dari azab Allah mana mungkin beliau menolong mereka...
"Katakanlah, "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan'. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sendiri sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungi diriku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya."  [QS. Jin: 21-23].

Tugas beliau hanya menyampaikan saja, bila demikian keadaannya, maka orang selain beliau, seperti wali-wali, adalah lebih jauh lagi dapat memberi pertolongan... Allahul Musta'an.
Sumber bacaan: "Ulasan Lengkap Tawassul oleh Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz

March 5, 2015

Allah perintah kita berselawat untuk Nabi-Nya, Tapi selawat yang macam mana?

"Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak berselawat kepadaku." (HR. At-Tirmidzi 484, di nilai shahih oleh Ibnu Hibban 911)

Seutama-utama manusia untuk mendapatkan syafa'atnya dan yang paling berhak untuk mendapatkan tempat terdekat dari beliau adalah mereka yang paling banyak berselawat kepadanya didunia.

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Jala Al Afham fi Ash-Shalati wa As Salami'ala Khairi Al Anam mengatakan seseorang yang berselawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam berarti ia telah melaksanakan perintah Allah Ta'ala dengan firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, berselawat lah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."  [QS. Al-Ahzaab :56].

Adapun selawat yang dimaksudkan ialah yang dibaca setelah tasyahud didalam shalat, yakni selawat 'Ibrahimiyah', sebagaimana yang di ajarkan oleh Nabi-Nya, bukan dengan berbagai jenis selawat terdapat hari ini.
Dari itu bagaimana layak bagi seorang Muslim mengaku "cinta Nabi" yang mengetahui keutamaan kedudukannya, dan nasehatnya bagi umat, kemudian bersamaan itu dia meninggalkan petunjuk Nabinya yang agung lagi berkah, lalu memilih selawat-selawat rekaan manusia yang tidak sebanding dengan beliau shallallahu alaihi wa sallam.

Telah berlalu bersama kita perkataan Mu'adz bin Jabal radiyallahuanhu;
"Sesungguhnya di belakang kamu fitnah-fitnah, akan banyak padanya harta, dibuka kan padanya alQur'an, hingga diambil oleh orang Mukmin dan munafik, laki-laki dan perempuan, kecil dan dewasa serta budak dan orang merdeka. Hampir-hampir seseorang berkata! 'Ada apa dengan manusia tidak mau mengikutiku sementara aku telah membaca alQur'an? Tidaklah mereka mau mengikutiku hingga aku mengadakan untuk mereka selainnya, maka berhati-hatilah kamu dari apa-apa yang diada-adakan, sungguh apa yang diada-adakan adalah bid'ah."
(Sunan Abu Daud, 4611, Asy-Syari'ah. Di shahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sunan Abu Daud, no3855)
Maksudnya jika pengajian berdasarkan alQur'an dan Sunnah sahaja tidak ada pengikutnya, ataupun sedikit,tetapi bila di masukkan (introduce) berbagai perkara bid'ah orang-orang akan ikutinya. Sungguh benar, jika dilihat keadaan manusia saat ini, mereka berbondong-bondong ke majlis-majlis yang diada-adakan, tetapi ke majlis ilmu yang syar'i hanya segelintir yang hadir atau mendengarkannya... Allalhul Musta'an.

Berkomitmentlah dengan sunnah dan ikut jalan para ahlinya. Sungguh pada yang demikian itu terdapat keselamatan dan keberuntungan.
Sumber: 'Fiqh Doa &'Dzikir' oleh Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr;  Syarah Bulughul Maram oleh Abdullah bin Abdurrahman al Bassam.

March 3, 2015

6 Golongan yang Allah melaknat mereka dan juga Nabi-Nya melaknat mereka.

Dari Aisyah (Radhiyallahu 'anha), bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

"Enam golongan yang aku melaknat mereka dan Allah pun melaknat mereka, serta setiap Nabi yang dikabulkan doanya: -  
1. Orang yang menambah didalam Kitabullah 
2. Orang yang mendustakan takdir Allah 
3. Orang yang menguasai umatku dengan pemaksaan untuk menghina orang yang Allah muliakan dan memuliakan orang yang Allah hinakan, 
4. Orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah 
5. Orang yang meminta kehalalan dari kaum kerabatku sesuatu yang diharamkan oleh Allah 
6. Orang yang meninggalkan as-Sunnah.

(HR. Ath-Thabrani) Dinilai shahih oleh Ibnu Ibnu Hibban dan Al-Hakim. 
Syaikh Imarah mengatakan, "Itrati" ertinya mereka adalah keluarga ku dan orang-orang yang mengikuti Sunnahku serta mengamalkan syari'at ku sampai hari Kiamat.
Petikan: Targhib wa Tarhib; Ibnu Hajar al-Asqalani di syarahkan Sariyah Abdul Karim Ar-Rifa'i

March 1, 2015

Berdoa kepada selain Allah, termasuk orang-orang yang zalim.

"Dan Rabbmu berfirman, "Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."  [QS.Al-Mukmin: 60]

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh hamba-hambaNya berdoa kepada-Nya langsung, tidak boleh melalui perantaran apa-apa atau sesiapa pun. Allah Maha Mendengar dan Dia dekat dengan hamba-hambaNya. 

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengkabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu." [QS.Al-Baqarah: 186].

Allah Azza wa Jalla mengingkari atas sesiapa yang mengatakan boleh berdo'a atau meminta pertolongan melalui wali-wali, hatta, Nabi-Nya sekalipun, sebagaimana FirmanNya;

"Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." [QS. Yunus: 106].

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah dibumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?"  [QS. An-Naml: 62]

Allah Azza wa Jalla berfirman, 
"Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain disamping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab."  [QS. Asy-Syu'ara': 213]

Dan FirmanNya lagi,
"Dan barangsiapa berdoa (menyembah) Tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." [QS. Al-Mu'minun:117].

Yang jelas adalah bahwa sesiapa yang berdoa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah wafatnya beliau, apalagi selainnya orang-orang yang telah meninggal dunia untuk menolak bahaya atau mencari kemaslahatan maka ia telah melakukan syirik besar yang mengeluarkan dirinya dari Agama Islam. 

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun."  [QS. Al-Ma'idah:72]

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberikan hidayah-Nya kepada kita semua kepada jalanNya yang lurus. 
Sumber bacaan: 'Ulasan Lengkap Tawassul' penulis Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, 'Pembatal Islam' Syaikh Saleh bin Fawzan al Fawzan.