Ibnu Qayyim rahimahullah berkata; "Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur'an dengan penuh renungan dan penghayatan. Kerana sesungguhnya al-Qur'an telah mengumpulkan semua kedudukan orang-orang yang menempuh kebaikan, keadaan orang-orang yang selalu melakukan kebaikan, dan kedudukan orang-orang yang arif.
Al-Qur'anlah yang bisa menimbulkan rasa cinta, kerinduan, takut, pengharapan, taubat, tawakkal, penyerahan diri, syukur, bersabar dan semua keadaan yang dengannya hati menjadi hidup lagi sempurna. Al-Qur'an pun bisa menjauhkan seseorang dari segala sifat dan perbuatannya tercela yang menjadi sumber kerusakan dan bencana bagi hati.
Seandainya manusia mengetahui manfaat yang ada didalam membaca al-Qur'an dengan penuh penghayatan, niscaya ia akan menyibukkan diri dengannya daripada yang lain. Jika ia membacanya dengan penghayatan, maka ketika ia melalui suatu ayat yang dibutuhkan untuk mengobati hatinya, ia akan mengulang-ulangnya walaupun seratus kali atau menghabiskan satu malam. Membaca al-Qur'an satu ayat dengan penuh penghayatan dan pemahaman lebih baik daripada membaca seluruh al-Qur'an tanpa penghayatan dan pemahaman makna. Merenungkan bacaan al-Qur'an lebih bermanfaat bagi hati dan lebih berpotensi untuk meningkatkan keimanan dan merasakan manisnya al-Qur'an...." (Miftaah Daaris Sa'aadah 204)
Petikan: "Pasang Surut Keimanan" oleh Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr
Jalan Kebenaran Hanya Satu. “Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147) "Barangsiapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun." (HR Muslim)
SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....
July 6, 2015
July 3, 2015
Mandi di sungai menghadap kemana?
Di kisahkan, seseorang bertanya kepada ahli fiqh, "Jika aku menanggalkan pakaian ku lalu mencebur ke sungai untuk mandi, apakah aku harus menghadap kiblat?"
Ahli Fiqh itu pun menjawab, "Menghadaplah ke arah pakaianmu yang telah kamu lepaskan."
Dari: 'Humor Cerdas ala orang-orang cerdik' oleh Ibnu al-Jauzi. Judul asli: Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkiya.
Ahli Fiqh itu pun menjawab, "Menghadaplah ke arah pakaianmu yang telah kamu lepaskan."
Dari: 'Humor Cerdas ala orang-orang cerdik' oleh Ibnu al-Jauzi. Judul asli: Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkiya.
Ukuran baik suatu amalan adalah dengan syari'at bukan dianggap baik.
Para ulama berkata, 'Baik dan tidaknya sesuatu (amalan) ukurannya adalah syariat, bukan mengerjakan suatu amalan yang di anggap baik menurut dirinya sendiri.' Ini kerana baiknya suatu perbuatan itu bisa di ketahui melalui syariat. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan itu tertolak."
**Jadi kayu ukur dasar sesuatu amalan itu ialah syariat, jika bukan yang disyariatkan, bagaimana dan dengan ukuran apa untuk menilainya baik atau tidak.
Petikan dari 'Tegar di atas Sunnah ibarat menggenggam bara api.' Kompilasi para-ulama Syaikh Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Rabi', Syaikh Abdul Muhsin, Syaikh Sa'id Al Qathani,dan lain lain lagi.
July 1, 2015
Tidak selamat dari perselisihan selagi tidak mengikuti as-Sunnah
Seseorang tidak akan selamat dari perselisihan yang tercela yang hal itu merupakan ciri suatu kelemahan, kecuali dengan ta'at kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Allah berfirman,
"Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabar lah. Sungguh, Allah berserta orang-orang sabar." [QS. Al-Anfaal : 46]
Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah mengatakan; Mengikuti dan mengamalkan As-Sunnah adalah salah satu bentuk keta'atan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta jalan keselamatan dari perpecahan yang tercela. Dari itu mereka yang mengatakan perpecahan disebabkan golongan Ahlus Sunnah, sesungguhnya mereka belum mengenali Islam sebenarnya. Allahul mustaan ..
"Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabar lah. Sungguh, Allah berserta orang-orang sabar." [QS. Al-Anfaal : 46]
Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah mengatakan; Mengikuti dan mengamalkan As-Sunnah adalah salah satu bentuk keta'atan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta jalan keselamatan dari perpecahan yang tercela. Dari itu mereka yang mengatakan perpecahan disebabkan golongan Ahlus Sunnah, sesungguhnya mereka belum mengenali Islam sebenarnya. Allahul mustaan ..
Petikan dari "Tegar di Atas Sunnah Ibarat Menggenggam Bara Api."
Konsep kaseh sayang yang disalah ertikan.
"Di dalam Kitabullah tidak ada hukum yang dalilnya lebih banyak dan lebih jelas melebihi hukum ini; Al-Wala' wal Bara', setelah diwajibkannya tauhid dan diharamkannya syirik."
~ Syekh Hamd bin 'Atiq rahimahullah ~
Hubungan yang mempertemukan seluruh manusia dalam agama ini bukanlah darah, keturunan, daerah tempat tinggal, negara, bangsa, kekerabatan, warna kulit, bahasa, jenis, unsur, profesi dan tidak pula metode maupun jalan.
Tetapi yang mempertemukan ialah AKIDAH. Inilah hubungan yang sesungguhnya.
Tidak dipungkiri bahwa selain akidah dapat saja mempertemukan manusia dalam satu ikatan, tetapi itu hanyalah bersifat semu dan sementara. Setelah itu akan terputus antara satu anggota dengan anggota lainnya akan berpisah dan bercerai-berai. Sa'at ini kita lihat ada banyak persatuan, organisasi, semua atas nama Islam, tetapi mereka tidak bersatu padu, kerana berlainan manhaj. Bagaimana pula jika organisasi antara Muslim dan non-Muslim?
Al-Qur'an telah mengabadikan kisah anak, Istri yang durhaka, keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth, dan bagaimana mereka tegar atas perintah Allah berlepas diri dari keluarga mereka. Allah Azza wa Jalla menjelaskan kepada Nuh 'alaihissalam, mengapa putranya tidak di masukkan dalam daftar keluarganya. Tidak lain adalah kerana apa yang dilakukan putranya bukanlah perbuatan yang saleh. Kerana itu hubungan iman telah terputus antara mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir ; surah Hud:42-47).
Tidak ada kaseh sayang, antara kaum Muslimin dan yang kafir. Namun kita disuruh menghormati mereka dengan berlakukan adil terhadap mereka, tidak menzalimi, tidak memerangi mereka tanpa sebab syari'i. Dakwah dengan berhikmah, tegakkan hujjah atas mereka, tetapi kita berlepas diri dari kekafiran mereka. Sebagaimana firman Allah;
"Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, saudaranya atau keluarganya." (Al-Mujadalah: 22).
Namun konsep al Wala' wal bara' ini telah di salah ertikan oleh sebagian pihak. Mereka mengatakan orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan as-Sunnah sebagai jumud, 'obsolete' tidak bertolak ansur, ultra konservatif. Allahul mustaan.. Gelombang Fitnah mula memukul pantai..
Di edit dari: Al-Wala' wal-Bara' oleh Muhammad Said al-Qahthani.
~ Syekh Hamd bin 'Atiq rahimahullah ~
Hubungan yang mempertemukan seluruh manusia dalam agama ini bukanlah darah, keturunan, daerah tempat tinggal, negara, bangsa, kekerabatan, warna kulit, bahasa, jenis, unsur, profesi dan tidak pula metode maupun jalan.
Tetapi yang mempertemukan ialah AKIDAH. Inilah hubungan yang sesungguhnya.
Tidak dipungkiri bahwa selain akidah dapat saja mempertemukan manusia dalam satu ikatan, tetapi itu hanyalah bersifat semu dan sementara. Setelah itu akan terputus antara satu anggota dengan anggota lainnya akan berpisah dan bercerai-berai. Sa'at ini kita lihat ada banyak persatuan, organisasi, semua atas nama Islam, tetapi mereka tidak bersatu padu, kerana berlainan manhaj. Bagaimana pula jika organisasi antara Muslim dan non-Muslim?
Al-Qur'an telah mengabadikan kisah anak, Istri yang durhaka, keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth, dan bagaimana mereka tegar atas perintah Allah berlepas diri dari keluarga mereka. Allah Azza wa Jalla menjelaskan kepada Nuh 'alaihissalam, mengapa putranya tidak di masukkan dalam daftar keluarganya. Tidak lain adalah kerana apa yang dilakukan putranya bukanlah perbuatan yang saleh. Kerana itu hubungan iman telah terputus antara mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir ; surah Hud:42-47).
Tidak ada kaseh sayang, antara kaum Muslimin dan yang kafir. Namun kita disuruh menghormati mereka dengan berlakukan adil terhadap mereka, tidak menzalimi, tidak memerangi mereka tanpa sebab syari'i. Dakwah dengan berhikmah, tegakkan hujjah atas mereka, tetapi kita berlepas diri dari kekafiran mereka. Sebagaimana firman Allah;
"Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, saudaranya atau keluarganya." (Al-Mujadalah: 22).
Namun konsep al Wala' wal bara' ini telah di salah ertikan oleh sebagian pihak. Mereka mengatakan orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan as-Sunnah sebagai jumud, 'obsolete' tidak bertolak ansur, ultra konservatif. Allahul mustaan.. Gelombang Fitnah mula memukul pantai..
Di edit dari: Al-Wala' wal-Bara' oleh Muhammad Said al-Qahthani.
Subscribe to:
Posts (Atom)