SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....

August 29, 2013

Kesabaran Ulama Besar Demi Kemurnian Aqidah


Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengisahkan tentang al-Imam al-Buwaithi, “Sungguh aku melihatnya di atas Bighal dengan leher terbelenggu, dan kaki juga dibelenggu, antara kedua belenggu tersebut ada rantai padanya ada batu (beban) seberat 40 rathl. Beliau mengatakan, “Allah menciptakan makhluk dengan kalimat Kun (jadilah). [1] Kalau seandainya “Kun” itu makhluk, maka berarti makluk diciptakan dari makhluk. Sunguh kalau aku dipertemukan dengannya (yakni Khalifah al-Watsiq) niscaya aku akan tetap mengatakan kebenaran di hadapannya dan aku akan binasa di belenggunya ini. Supaya generasi setelah ini tahu bahwa di sana telah gugur orang-orang besar di belenggu-belenggu penguasa demi mempertahankan urusan ini (aqidah ahlus sunnah wal jama’ah).” (Siyar A’lamin Nubala’IX/459)
Sungguh kalimat yang agung, kisah yang agung. Padanya sangat banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh generasi muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di antaranya:
1. Perhatikan bagaimana para ‘ulama rela disiksa dan diadzab demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun meskipun demikian, para ‘ulama tersebut tidak mencabut tangan ketaatan terhadap pemerintah! Bahkan tetap memandang wajibnya memberikan an-Nush (kebaikan dan nasehat) kepada pemerintah yang mengadzab dan menyiksanya. Mereka bersikap demi agamanya, bukan demi membela dirinya.
Ditanyakan kepada al-Imam Ahmad – beliau adalah orang terdepan dalam mempertahankan aqidah sehingga siksaan kepada beliau paling besar pula – “tidakkah engkau mendoakan kejelekan untuk penguasa yang menyiksamu ini?” maka dengan tegas beliau menjawab, “Kalau seandainya aku memiliki doa yang mustajab, niscaya aku berdoa untuk kebaikan waliyyul amr.” Inilah jawaban beliau, padahal beliau sedang disiksa. Hal yang sama ditanyakan kepada Fudhail, maka beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Demikianlah fiqh (pemahaman) para ‘ulama.
2. Banyak para ‘ulama berguguran demi mempertahankan aqidah yang bersih murni ini, aqidah ahlus sunnah wal jama’ah as-salafiyah. Permasalahan aqidah merupakan urusan besar, bukan urusan remeh. Maka jangan tertipu dengan orang-orang yang meremehkan urusan aqidah. Yang hanya mementingkan untuk menyatukan umat, menggerakkan umat, tanpa melihat permasalahan aqidah.
3. Jangan tertipu dengan para “dai” – yang sebenarnya mereka hanya para orator atau politikus – yang dipenjara oleh penguasa karena mempertahankan agama katanya. Padahal dia menjerumuskan kaum muslimin ke banjir darah!! demi mempertahankan atau mengembalikan kekuasaan si fulan!!
4. Perhatikan bagaimana teladan yang ditunjukkan oleh Amirul Mukminin Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, beliau sangat sayang kepada kaum muslimin, tidak rela darah kaum muslimin tertumpah. Maka ketika beliau dikepung oleh para pemberontak bejat, maka shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum lainnya datang demi membela beliau dan mengusir para pemberontak!! Namun Amirul Mukminin mengatakan kepada para shahabat tersebut, “Barangsiapa yang masih memandang kewajiban mentaatiku, maka hendaknya menyimpan pedangnya masing-masing dan keluar dari rumahku ini.” demi menjauhkan kaum muslimin dari fitnah dan menjaga agar darah mereka tidak tertumpah!!
Apakah para revolusioner yang mengepung rumah ‘Utsman di atas kebenaran? Demi Allah mereka di atas kebatilan. Mereka adalah para pemberontak. Maka perhatikan sikap Amirul Mukminin yang menyayangi umat ini, bandingkan dengan para orator yang menjerumuskan kaum muslimin untuk berhadapan dengan senjata-senjata mematikan, mengeluarkan kaum wanita agar turun ke jalan-jalan melakukan demo,, demi mengembalikan si fulan ke tampuk kekuasaannya??! Ini sangat jauh dari fiqh para salaf.
5. Perhatikan kisah di atas, “Sunguh kalau aku dipertemukan dengannya (yakni Khalifah al-Watsiq) niscaya aku akan tetap mengatakan kebenaran di hadapannya.”
Inilah jihad!! Kalimat haq yang disampaikan dihadapan penguasa zhalim. Bukan dia mengucapkan di depan mimbar, di hadapan umum. Ketika itu berani berkata. Namun ketika di hadapan penguasa secara langsung, dia tidak berkata benar. Tidak kuasa mempertahankan al-haq.
(faidah yang aku catat dari pelajaran al-Muhimmat al-Awwaliyah fi al-Muqaddimat al-Fiqhiyyah bersama asy-Syaikh Hani bin Braik, pagi ini 22 Syawwal 1434 H/29 Agustus 2013 M. Semoga bermanfaat bagi semua)
[1]  Kalimat “Kun” dari Allah adalah kalam-Nya, bukan makhluk!

Sumber: dammajhabibah.net

Demonstrasi pertama dalam sejarah Islam

Pemberontakan pertama selepas kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, terjadi semasa pemerintahan Utsman bin Affan radiyallahanhu. Saif bin Umar mengatakan [Tarikh ath-Thabari, 4/340] bahwa sebab terjadinya pemberontakan beberapa kelompok terhadap Utsman adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba' yang berpura-pura masuk Islam dan pergi ke daerah Mesir untuk menyebarkan ideanya.

Ia mengatakan kepada seseorang "Bukankah Isa bin Maryam Alaihissalam akan kembali kedunia?" Jawab orang itu, "Ya." Ia berkata lagi, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih baik dari Isa. Apakah kamu mengingkari beliau akan kembali kedunia sementara beliau lebih mulia dari Isa?" Kemudian dia berkata, "Beliau telah memberi wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir dan Ali penerima wasiat yang terakhir. Berarti Ali lebih berhak menjadi khalifah daripada Utsman dan Utsman telah merampas hak yang bukan miliknya."

Maka mulailah orang-orang mengingkari kepemimpinan Utsman dan mencelanya seolah-olah sedang beramar ma'ruf dan melarang kemungkaran, mereka mengajak orang-orang mendukung idea tersebut. Maka ramai penduduk Mesir yang terpengaruh fitnah dan mereka mula berkomunikasi dengan jemaah orang awam yang ada di Kufah dan Bashrah, sehingga mereka bersepakat untuk mengingkari pemerintahan Utsman. Lalu diutus lah seorang untuk mendebat Utsman dan menyebutkan hal-hal yang mereka kritik, terutama sistem familisme dalam pengangkatan gubenur serta memecat beberapa tokoh besar dari kalangan sahabat dari jabatan tersebut. Sehingga banyak orang yang termakan provokasi tersebut.

Ibnu Katsir mengatakan 'peranan Abdullah bin Saba' dalam mengobarkan fitnah sangat jelas sekali. Banyak nash nash yang menyebutkan tentang hal tersebut. Walaupun ada banyak yang lain terlibat, namun ia termasuk salah seorang gembong yang menyulut api fitnah dan juga aktif dalam menghasut jamaah-jamaah dan kelompok-kelompok untuk menentang dan berusaha merusak syariat Islam serta memecah belah persatuan umat Islam. Mereka adalah orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan orang-orang munafik.'

Dalam berbagai keterangan yang tertera didalam buku-buku tarikh, jelaslah bahwa Utsman bin Affan radiyallahanhu melakukan beberapa cara didalam menangani fitnah, diantaranya:

1). Beliau mengumpulkan dewan syura dari kalangan sahabat dan meminta pendapat mereka tentang strategi yang harus dilakukan.

2). Beliau mengutus beberapa orang menyelidiki kejadian sebenar dan akar permasalahan, tetapi delegasi tersebut tidak mendapatkan sebab yang hakiki, pergolakan hanya isu belaka.

3). Beliau mengumpulkan para gubenur di Madinah, kemudian mendiskusi permasalahan, dan beliau mengarahkan mereka berbuat baik pada rakyat dan menghindari dari semua sebab yang dapat muncul pergolakan dan permasalahan.

4). Mengarahkan para gubenur tidak memberi tindakan keras pada perusuh atau memenjarakan dan membunuh mereka, supaya sikap lembut tersebut dapat meredakan pergolakan.

5). Menegakkan hujjah terhadap para pemberontak dan menerangkan kekeliruan mereka, mengingatkan mereka agar senantiasa mengingat Allah dan tetap konsisten dengan jamaah dalam kebenaran. Setelah itu banyak yang rujuk dari pemikirannya dan bertaubat.

6). Mengkabulkan beberapa tuntutan penukaran gubenur sebagaimana kehendak mereka.

Tetapi dibalik pergolakan tersebut ada unsur politik dan dendam kesumat yang terus berusaha untuk menyulut api pergolakan ditengah umat Islam dan memecah persatuan kaum Muslimin. Lalu terjadi lah apa yang telah diberitakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa Utsman akan dibunuh secara dzalim yang di iringi dengan berbagai fitnah dan perpecahan kaum Muslimin dan ketetapan Allah itu adalah satu ketetapan yang pasti berlaku.
----------------------------------------------------
**Pada hari ini kita dapat lihat ramai yang ber demonstrasi di mana-mana saja. Ada yang bermula dengan aman tetapi berakhir dengan perusuhan yang sangat sengit. Demonstrasi bukanlah dari Islam, ia berpunca dari musuh Islam yang mahukan perpecahan umat Islam, malangnya orang Muslim cepat terpengaruh dengan ideologi barat.

Demonstrasi bukanlah jalan keluar atau jalan penyelesaian bagi sesuatu kezaliman
Ia hanya akan menimbulkan kemudaratan yang lebih mudharat.**

Cerbisan dan ringkasan dari sejarah "Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul Yang Agung" oleh Ibnu Katsir , dengan tidak merubah isinya. Terbitan Darul Haq.

August 28, 2013

Anda Hanya Tinggal Sembilan Hari Saja!


Setelah kita meninggalkan Ramadhan, termasuk di antara amalan sunnah yang dianjurkan  adalah berpuasa 6 hari di bulan Shawal. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu menyambungnya dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti orang yang berpuasa sepanjang setahun.”
[HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari]

Disebutkan dalam riwayat lain tambahan lafazh:
“Allah menjadikan satu kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan, satu bulan sama dengan sepuluh bulan, dan (berpuasa) enam hari setelah berbuka adalah penyempurna setahun.”
[HR.Ibnu Majah, Ad-Darimi,At-Thahawi. Lihat kitab Irwa'uk Al-Ghalil, karya Al-Albani no.950.]

Apakah Puasa 6 hari Shawal harus berurutan selepas Eid?

Berpuasa enam hari di bulan Syawal, tidak disyaratkan harus dilakukan secara berurutan, namun diperbolehkan dilakukan bila saja dari hari- hari di bulan Syawal, atau sehari selepas Eid. 
Syaikh Bin Baaz rahimahullah berkata : ” diperbolehkan melakukannya secara berurutan dan secara terpisah, sebab Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him)menyebutkannya secara mutlak tanpa penjelasan berurutan ataupun terpisah."   [Majmu'  Fatawa Ibn Baaz: 15/391]

Question: Is the fasting of the six days (of Shawwaal) a must after the month of Ramadhaan immediately after the day of 'eed, or is it permissible (to do so) after 'eed by (a number of) days in the month of Shawwaal or not? 
Response: It is not a must for him to fast immediately after 'eed al-fitr, rather it is permissible to begin fasting after 'eed by a day or (a number of) days. And (also) to fast them continuously or intermittently in the month of Shawwaal according to that which is easy for him. And the issue is quite open in this matter, and it is not obligatory, rather it is a sunnah.
And with Allaah lies all the success, and may Allaah send prayers and salutations upon our Prophet Muhammad (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) and his family and his companions.
Fataawa Ramadhaan - Volume 2, Page 693, Fatwa No.698;

August 27, 2013

Orang yang Paling Dicintai Rasulullah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang siapakah wanita paling dicintainya.
Beliau menjawab: "'Aisyah." Lalu ditanya lagi: "Siapakah laki-laki yang paling dia cinta ?"
Beliau menjawab: "Ayahnya (Abu Bakar)."  Lalu beliau ditanya lagi: "Siapa lagi?"
Beliau menjawabnya: " Umar bin al-Khatthab."

Anda Bertanya Rasulullah Menjawab; oleh Ibnul Qayyim ; Pustaka As-Sunnah.

Amalan yang Setara dengan Membaca al-Qur'an

Seseorang datang ke hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta nasehat, lalu dia berkata: "Aku tidak memiliki sedikit pun hafalan al-Qur'an, oleh kerana itu ajarkan lah kepadaku amalan yang setara dengannya."

Nabi menjawab: "Bacalah, Subhanallah walhamdulillah walaa ilahaillallah wallahu akbar laa haula walaa quwwata illa billah (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi-Nya, tidak ada tuhan selain Dia, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah).

Fatwa Rasulullah oleh Ibnul Qayyim..Anda Bertanya Rasulullah Menjawab..Pustaka As-Sunnah