SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....

January 30, 2014

Efek al-Quran pada orang yang durhaka.

"Demikianlah Kami masukkan al-Qur'an kedalam hati orang-orang yang durhaka". [QS. Asy-Syu'araa; 26:200]
Allah Ta'ala berfirman: Demikianlah Kami masukkan kedustaan, kekufuran, pembangkangan dan penentangan kedalam hati orang-orang yang durhaka sebab mereka tidak beriman kepada kebenaran.  Mereka mendustakan dan meremehkan ayat-ayat Allah Subhanahu Wata'ala.
"Mereka tidak beriman kepadanya sehingga mereka melihat azab yang pedih" 
[QS. Asy-Syu'araa; 26:201]
Ref; Tafsir Ibnu Katsir

6 Perkara yang ditanyakan oleh Musa kepada Rabbnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; "Musa bertanya kepada Rabbnya tentang enam perkara. Dia mengira keenam perkara itu khusus untuk dirinya. Sementara Musa tidak menyukai perkara yang ketujuh:
(1). Musa bertanya: 'Ya Rabb, siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?' Allah berfirman: 'Yang selalu ingat (kepada Allah) dan tidak pernah lupa.

(2). Musa bertanya lagi: 'Siapakah hamba-Mu yang paling banyak mendapat petunjuk?' Allah berfirman: 'Yaitu hamba yang mengikuti petunjuk.

(3) Musa bertanya lagi: 'Siapakah hamba-Mu yang paling adil?'  Allah berfirman: 'Yaitu orang yang mengadili orang lain sebagaimana ia mengadili dirinya sendiri.'

(4). Musa bertanya lagi: 'Siapakah hamba-Mu yang paling banyak ilmunya?  Allah berfirman: 'Yaitu seorang yang tidak pernah puas dengan ilmu, ia sentiasa tambah ilmunya dari orang lain.'

(5). Musa bertanya lagi: 'Siapakah hamba-Mu yang paling mulia?  Allah berfirman: 'Yaitu seseorang yang telah menetapkan hukuman (balasan atas kejahatan seseorang kepada dirinya), lalu ia memaafkannya.

(6). Musa bertanya lagi: 'Siapakah hamba-Mu yang paling kaya?'  Allah berfirman: 'Yaitu hamba yang redha terhadap apa-apa yang ia terima.'

(7). Musa bertanya lagi: 'Siapakah hamba-Mu yang paling fakir?'  Allah berfirman: 'Yaitu yang selalu kekurangan." (Berjiwa miskin) 

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; "Sesungguhnya kaya itu adalah kaya jiwa. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah akan memberikan kekayaan pada jiwanya dan ketakwaan pada hatinya. Dan jika Allah menghendaki keburukan atas seorang hamba maka Allah akan menampakkan kefakiran nya berada dipelupuk matanya (dihadapannya)" 
[HR. Abu Hurairah (3165) ; Hadith ini shahih sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Allamah Al-Muhaddits  Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Hadith Shahih Jilid 1 (115)

January 28, 2014

Kisah Turunnya Sepuluh Instruksi (Ten Commandments)

Setelah Allah menyelamatkan kaum Bani Israil daripada kekuasaan, kekejaman Fir'aun, Rabb 'Azza wa Jalla kemudian berbicara dengan Musa dan memerintahkan sepuluh kalimat padanya.

Menurut versi ahli kitab, Bani Israil mendengar kalam Allah, hanya saja mereka tidak faham hingga diberitahu oleh Nabi Musa alaihissalam. Musa pun menyampaikan (wahyu) 'The Ten Commandments' :-

1.  Perintah untuk beribadah hanya kepada Allah.
2.  Larangan menyekutukan Allah.
3.  Larangan bersumpah palsu atas nama Allah.
4.  Perintah untuk menjaga hari Sabtu, yang artinya satu hari dalam sepekan harus dijadikan 
 untuk beribadah secara penuh. Satu hari yang dimaksud adalah hari Juma'at (bagi kita kaum 
 Muslimin) sebagai pengganti hari Sabtu (bagi Bani Israil). 
5.  Hormati kedua orangtuamu agar usiamu panjang dibumi.
6.  Jangan membunuh anak yang Allah karuniakan kepadamu.
7.  Jangan berbuat zina.
8.  Jangan mencuri.
9.  Jangan bersaksi dengan kesaksian palsu kepada kawan mu.
10.Jangan menginginkan rumah orang lain, jangan berhasrat kepada isteri orang lain, budak 
  lelaki dan budak wanita orang lain, tidak juga lembu, keledai, ataupun apapun milik orang          
  lain. Maknanya adalah larangan bersikap dengki.

Banyak ulama salaf menyatakan bahwa inti sepuluh kalimat tersebut tertera dalam firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam surah Al-An'am ayat 151-153. Setelah menyebut sepuluh kalimat ini, mereka (ahli kitab) menyebutkan sejumlah wasiat dan hukum yang banyak. Semuanya ada dan berlaku, namun setelah itu lenyap. Perintah-perintah ini diamalkan selang beberapa lama, namun kemudian dilanggar. Mereka merubah dan mengganti perintah-perintah itu, setelah itu mereka membuangnya sehingga perintah tersebut dihapus dan diganti, setelah sebelumnya disyariatkan secara utuh. Wallahul a'lam.
Dinukil dari 'Kisah Para Nabi' terbitan Ummul Qura; hal 574, karya Ibnu Katsir.

January 27, 2014

Penjagaan Allah terhadap penurunan Al Quran dan syariat-Nya

"Dan al-Qur'an itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun al-Qur'an itu, dan mereka pun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar al-Qur'an itu."
[QS. Asy-Syu'araa'; 26:210-212]

Ibnu Katsir,dalam tafsirnya mengatakan, Allah Subhanahu Wata'ala mengkhabarkan bahwa Kitab-Nya yang mulia tidak layak dibawa turun oleh syaitan-syaitan, dan hal itu tercegah kerana tiga alasan:-
1.).   Kerana karakter syaitan adalah merusak dan menyesatkan para hamba. Sedangkan dalam al-Qur'an terkandung amar ma'ruf dan nahi munkar, cahaya, hidayah dan bukti nyata yang jelas.
Maka diantara syaitan dan al-Qur'an sangat bertolak belakang.

2,).   Sekali pun patut bagi mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.

3.).   Sekalipun mereka patut dan mereka mampu membawa dan menyampaikannya, niscaya mereka tidak akan mampu menjangkaunya, kerana mereka akan tersingkir dari pendengaran al-Qur'an pada waktu turunnya, kerana langit dipenuhi oleh penjagaan yang ketat dan bola bola api pada saat di turunkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, maka tidak ada satu syaitan pun yang lulus untuk mendengarkan satu huruf pun agar tidak terjadi percampuradukkan.

Hal ini merupakan rahmat Allah kepada hamba-Nya, penjagaan Allah terhadap syari'at-Nya dan dukungan Allah terhadap Kitab dan Rasul-Nya. 

Dari itu patutkah manusia mempertikaikan kemaslahatan hukum Allah akan implikasinya terhadap masyarakat jika diterapkan?
Wallaahu a'alam.
Ref; Tafsir Ibnu Katsir. 

January 26, 2014

Dari dulu Ahlu Sunnah difitnah, dimusuhi.

Bukanlah suatu hal yang asing bagi kita apa yang telah dicatat oleh sejarah tentang cobaan yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu Qayyim, Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahab dan Ahlul Haq seluruhnya pada setiap tempat dan zaman.

Mereka telah difitnah, dizalimi dan di penjara kerana menegakkan al-Haq, mempertahankan as-Sunnah dan membenteras bid'ah. Abu Nashr al-Faqih berkata, "Tiada sesuatu yang lebih berat dan lebih dibenci oleh orang-orang yang mulhid (berpaling dari agama Allah Azzawajal) daripada mendengarkan hadith dan meriwayatkannya dengan sanadnya."  [Aqidah Ash-haabil Hadith, hal.104].

Imam Asy-Syathibi berkata," Tidakkah kamu lihat ahwal (keadaan-keadaan) ahli bid'ah dizaman Tabi'in dan setelahnya? Mereka bercampur dengan para penguasa dan berlindung kepada orang-orang berharta. Sedangkan diantara mereka yang tidak mampu melakukan hal itu bersembunyi dengan bid'ahnya dan melarikan diri dari bercampur dengan orang-orang sekitarnya serta melaksanakan perbuatannya dengan cara taqiyyah (melindung diri dengan kedustaan)."

"Ahli bid'ah apabila dakwahnya tidak berhasil disambut oleh manusia, mereka berusaha (dengan kekerasan, demonstrasi, mengusung orang orang awam) bangkit dengan para pemimpin agar lebih memungkinkan untuk diterima. Maka dari itu, banyak orang yang masuk ke dalam dakwah ini kerana kebanyakkan mereka jiwanya lemah." [Lihat Al-I'tisham karya Imam Asy-Syathibi (1/220)].

Sebagian orang tertipu dengan ahli bid'ah dikeranakan kezuhudan dan kekhusyu'an serta tangisan atau selainnya dari banyaknya ibadah yang mereka lihat pada mereka. Akan tetapi hal ini bukanlah barometer yang benar dalam mengetahui kebenaran. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyebutkan sebagian dari sifat mereka;
"Salah seorang di antara kamu merasa hina shalatnya dibanding shalat mereka (ahli bid'ah/Khawarij) dan puasanya dibanding puasa mereka....."
Allahul Musta'an
Dari Syarah Ushulus Sunnah oleh Imam Ahmad.