SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....

June 3, 2014

Waspada Bisikan Hati!

Bisikan yang melintas di dalam hati harus dijaga, diwaspadai, tidak boleh diremehkan dan tidak boleh dibiarkan berkembang ke mana-mana. Sebab akar kerusakan bermuara dari bisikan hati, kerana memang itu merupakan benihnya syaitan dan nafsu yang ditebarkan di bumi hati. Apabila benihnya bagus, maka syaitan rajin mengairinya dari waktu ke waktu, sehingga benih itu tumbuh menjadi bermacam-macam keinginan. Syaitan terus mengguyurnya sehingga keinginan itu tumbuh menjadi bermacam-macam ambisi, sampai akhirnya seseorang sadar bahwa dirinya sudah menjadi orang lemah atau mendekati orang yang lemah, yang tidak mampu mengenyahkannya, setelah semuanya berubah menjadi keinginan yang bulat dan pasti. Dan, jika dia benar-benar tidak mampu mengenyahkannya, maka dia akan menjadi orang yang berbuat kelewat batas, meskipun awalnya hanya merupakan bisikan hati yang lemah.

Keadaan ini seperti orang yang meremehkan api yang menyentuh kayu yang kering. Tata kala api benar-benar membakarnya, dia tidak mampu memadamkannya.
Ringkasan dari: Thariqul-Istiqamah (judul asli) oleh Ibnu Qayyim.

Antara Manusia yang Mulia dan yang Hina

Manusia itu ada dua golongan:
1.  Manusia yang mulia, yaitu orang yang mengetahui Rabb-nya, lalu menitinya dan berusaha agar bisa sampai ke titik tujuan. Dialah orang yang mulia disisi-Nya. 
2. Manusia yang hina yaitu orang yang tidak mengetahui jalan menuju Rabb-nya dan tidak berusaha untuk mengetahuinya. Inilah orang yang hina sebagaimana yang difirmankan Allah: 
"Dan, barangsiapa yang di hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya."  [QS.Hajj:18]

Pada hakikatnya jalan kepada Allah itu hanya satu, tidak bermacam-macam dan tidak pula bercabang-cabang yaitu shirathul-mustaqim. Barangsiapa mengikutinya, dia dijamin pasti akan sampai ke titik tujuan. Firman Allah:
"Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)."  [QS. Al-An'am:153].
Allah membuat jalan-Nya satu jalan yang pada dasarnya jalan itu memang satu, tidak bermacam-macam. Allah menjadikan berbagai jalan, kerana jalan-jalan itu beraneka macam dan berbeda-beda.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah membuat sebuah garis, lalu berkata, "Inilah (perumpamaan) jalan Allah." Kemudian beliau membuat garis-garis lain dikiri kanannya, kemudian berkata, "Ini adalah beberapa jalan, yang diatas masing-masing jalan terdapat syaitan yang menyeru kepadanya." 
[HR. Ahmad dan Al-Hakim. Shahih]
Ringkasan dari: Thariqul-Istiqamah (judul asli) oleh Ibnu Qayyim.

June 2, 2014

Hati adalah 'wadah'

Ketahuilah! Bahwa engkau tidak akan memperbuat bid'ah didalam agama Allah Subhanahu wa Ta'ala melainkan akan dilepaskan lah sunnah oleh Allah dari hati engkau, sesuatu yang bertentangan dengan bid'ah. Kerana hati adalah 'wadah', jika dipenuhi dengan kebaikan, maka tidak akan tersisa didalamnya suatu tempat keburukan. Dan jika dipenuhi dengan keburukan, maka tidak akan tersisa padanya suatu tempat untuk kebaikan. Jika dipenuhi dengan sunnah, maka tidak akan tersisa tempat untuk bid'ah. Dan jika dipenuhi dengan bid'ah, maka tidak akan tersisa tempat untuk sunnah..

Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah, "Engkau akan dapati pada mereka yang bersemangat dengan bid'ah pada mereka kekurangan dan kelemahan untuk mengikuti sunnah. Hampir-hampir mereka itu tidak melaksanakannya dengan cara yang diminta." 
Dari: Al-Bida' wa Al-Muhdatsat wa maa Laa Ashla Lahu; penyusun: Hammad bin Abdullah al-Mathr.

Dunia hanya Tempat Singgah

Manusia diciptakan sejak pertama kali tidak ubahnya adalah ibarat musafir yang berada dalam perjalanan, dan tidak ada tujuan dari perjalanan mereka itu, kecuali Surga atau Neraka. Orang yang cerdik tahu, bahwa setiap perjalanan itu berat dan berbahaya. Tidak mungkin dia dapat merasakan kenyamanan, kelezatan dan istiharat dalam perjalanan, kecuali setelah sampai di tujuan. Setiap langkah kaki atau detik dalam perjalanan, mereka tidak pernah berhenti. Orang yang diberi tugas tidak akan berhenti dulu dalam perjalanan, karenanya dia harus mempunyai bekal yang cukup agar bisa sampai pada tujuan perjalanan. Jika dia singgah, tidur atau istiharat, hal itu dia lakukan hanya sebagai persiapan perjalanan yang berikutnya.
Disari dari Al-Fawa'id oleh Ibnu Qayyim

Empat kelompok manusia di dunia.

Sesungguhnya pada perkara dunia itu ada empat kelompok manusia :  
1) Seorang hamba yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu maka kemudian ia menggunakannya untuk ketaqwaan kepada Allah, dan menyambung silaturohim dengannya, dan ia mengetahui hak Allah atas harta tersebut maka hamba ini adalah pada seutama-utama kedudukan. 2) Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu dan tidak diberikan kepadanya harta benda dan ia benar niatnya, ia mengatakan : kalaulah aku memiliki harta maka aku akan mengamalkan sebagaimana amalan si fulan, maka dengan niatnya tersebut pahala keduanya adalah sama. 3) Seorang hamba yang Allah Ta’aala berikan baginya harta benda dan tidak diberikan ilmu baginya, dan ia menyia-nyiakan harta bendanya tanpa ilmu, dan tidak dipergunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’aala, dan tidak untuk menyambung rohimnya dan ia tidak mengetahui hak Allah atas harta benda tersebut, maka ini adalah sejelek-jelek kedudukan. 4) Seorang hamba  yang tidak Allah berikan kepada mereka harta dan ilmu dan ia mengatakan ; kalaulah aku memiliki harta benda tersebut maka aku akan melakukan sebagaimana amalan yang dikerjakan oleh si fulan.
[HR. Ahmad dan Tirmidzi dan Ibnu Majah.]
Mayoritas dari kalangan manusia di saat ini, dunia telah melalaikan mereka dari kehidupan akherat. Dari kalangan mereka ada yang sibuk mengumpulkan harta benda dan mengembangkannya dan menyia-nyiakan dari apa yang Allah wajibkan dari shalat lima waktu dan peribadatan-peribadatan yang lain. Di antara mereka ada orang-orang yang sibuk dengan bersenang-senang dengan perkara dunia tersebut dan memberikan kepada jiwanya seluruh apa yang ia inginkan dari kelezatan-kelezatan dunia, dan berbangga-bangga padanya, dan melupakan akherat, dan kemudian ia menjadi tidak suka untuk mengingat akherat dan berat untuk berbicara tentang akherat, maka mereka ini menganggap bahwa seorang yang zuhud terhadap perkara dunia dan takut terhadap akherat adalah termasuk dari melalaikan keberadaan dunia di hati-hati mereka dan melalaikan mereka dari akherat. Maka bertaqwalah kepada Allah Ta’aala dan bersiap-siaplah untuk menghadap bertemu dengan Allah Ta’aala.
Disarikan dari Kiab Khuthabul Mimbariyah asy-Syaikh Shalih Fauzan –hafizhahullah-. Sumber:  salafy.or.id