SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....

July 31, 2014

Sampaikanlah kebenaran secara terang-terang..

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpaling lah dari orang-orang yang musyrik."  {QS. Al-Hijr : 94}

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar menyampaikan risalahnya, melaksanakan dan menyampaikannya dengan cara terang-terang, yaitu dengan berhadapan langsung dengan orang-orang musyrikin.

Abu Ubaidah meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, ia berkata; "Nabi shallallahu alaihi wa sallam terus berdakwah dengan bersembunyi-sembunyi, sampai turun ayat: 'Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu).' Setelah turun ayat ini barulah beliau keluar dengan para Sahabatnya."

Beliau juga disuruh jangan menoleh (menghiraukan) orang-orang musyrik yang ingin menghalanginya dari ayat-ayat Allah. 'Dan berpaling lah dari orang-orang yang musyrik.'
Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, (lemah lembut) lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu. Dan janganlah kamu sembunyi dari mereka, kerana Allah Azza wa Jal melindungimu dan menjagamu dari kejahatan mereka,
'Sesungguhnya Kami memelihara (melindungi) kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok(mu).' {QS. Al-Hijr: 95}
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir ; 15:94-95.]

Dari itu sampaikanlah kebenaran.. Jangan takut dengan cercaan.  Sebab Allah akan memelihara dan melindungi mereka yang menegakkan agama-Nya (yang benar) dari kejahatan orang-orang yang mengkhianati, memperolok-olokkan.. Apalagi memperlekehkan Sunnah Nabi-Nya..
Allahul Musta'an...

Mengapa resah dengar Sunnah?

Fenomena hari ini ialah apabila kita memperkenalkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau pun bila kita cuba mempratikkannya, ada dari kalangan manusia yang resah gelisah, seakan-akan ia menyakitkan.
Kenapa? 
Kerana mereka melihat bahwasanya apa yang di ketengahkan, apa yang di bawa, apa yang hendak dipraktikkan, itu menyelisihi apa yang sedang mereka lakukan, apa yang sedang mereka laksanakan, apa yang menjadi sumber rujukan mereka selama ini. 

Sewajarnya sebagai umat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kita sepatutnya merasa bangga, mendengar kata-kata beliau, perbuatan beliau yang sampai pada kita tanpa rasa gelisah, segan silu, tanpa rasa berat sedikit pun untuk mempratikkannya. Namun pada hari ini bila datang satu sunnah beliau, ada yang mengatakan, "Ini susah kita nak amalkan." Atau antara alasan lainnya, 'Ini sudah tak praktikal, dulu zaman Nabi lain, sekarang situasi bertukar." 

Sebagaimana  hari ini para penguasa, para ilmuwan, bersungguh-sungguh, sibuk, berkempen siang dan malam untuk mengubah persepsi masyarakat tentang sesuatu perkara, tetapi mengapa apabila issu sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mereka malas, lemah, takut hendak mengedepankannya. Sebaliknya mereka melabel golongan yang cuba menegakkan dan menghidupkan sunnah sebagai 'Wahabi'....atau golongan 'ekstrimis'.

Mengapa fatwa dari Saudi diambil jika itu sejalan dengan "matlamat" mereka, namun jika itu menyelisihi apa yang sedang mereka lakukan, di tolak atas alasan tidak praktikal pada situasi kini.. Walhal Syariat, hukum, Islam di Saudi, Amerika, Cina, India, atau dimana-mana pun sama.. Allahul Musta'an ....

July 29, 2014

Membela Sunnah lebih Utama daripada berjihad.

Renungkan, Adz Dzuhli berkata: aku mendengar Ibnu Mu'in mengatakan, "Membela sunnah lebih utama daripada berjihad." Aku pun bertanya: "orang yang menginfakkan hartanya, lelah badannya untuk berjihad, apakah membela sunnah lebih afdhal daripada ini?".  Adz Dzuhli berkata, "Ya, jauh lebih afdhal membela sunnah." 

Twit Ulama :  @D_ghaith - Dr Muhammad bin Ghaits. Doktor dalam bidang syariah, da’i khatib dan peneliti di UEA • 
**Jika membela sunnah dikira lebih afdhal daripada berjihad dan berinfaq, bagaimana pula jika meremehkan sunnah dan menghapuskannya dengan bid'ah ...? 

Manusia di perintah supaya mengikuti jalan Sunnah Nabi-Nya...

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (mu) kepada Allah diatas bashirah (hujjah yang nyata), Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik."   [QS. Yusuf: 108].

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam yang diutus kepada manusia dan jin,memerintahkan kapadanya agar memberitahu kepada manusia bahwa inilah jalannya, maksudnya adalah cara, jalan dan Sunnahnya, yaitu dakwah kepada shahadah bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan jalan itu dia mengajak kepada Allah berdasarkan bukti, dalil dan keyakinan.
Ref: Tafsir Ibnu Katsir

Jauhi sumber yang bisa merusakkan ibadah sesudah Ramadhan..

Lambaian Ramadhan telah berlalu. Syaitan-syaitan dan bala tenteranya terlepas sudah dari belenggu. Inilah masanya mereka membalas dendam kerana sebulan terikat, terpaku. Hari ini di awal shawal, mereka kembali  menghasung manusia kepada fitnah dan pintu fitnah yang paling merbahaya sekali ialah pintu kaca TV yang bisa membuka kepada berbagai, beragam fitnah melalui rancangan hiburannya.

Inilah fenomena masyarakat Islam dimana-mana. Banyak diantara mereka yang menganggap biasa perkara hiburan seperti, musik, bahkan ada sebagian para dai' yang menganggap ia sesuatu yang halal ! Malah dalam banyak hadith, atsar para salaf yang mengharamkan alat musik dan mendengarkannya. Syaitan sebagaimana sumpahnya untuk menyesatkan anak Adam, di hari pertamanya shawal, selepas bergemar takbir raya dicorong-corong masjid, rumah-rumah, dia pun mengorak langkah, dengan berbagai acara hiburan (drama, konsert, nyanyian) melalui kotak-kotaknya..tidak diragukan lagi bahayanya!

Ingatlah Wahai saudara, saudariku..selepas menjalani ibadah puasa dengan menjaga mata, telinga, mulut dan anggota badan, janganlah di cemari di awal shawal dengan berselimpuh didepan kaca TV  menjamu telinga dengan alunan 'seruling syaitan' menjamu mata dengan para biduanita yang bertabarruj. Cermati, pelihara kemurnian shiyam kita sehingga Ramadhan depan, in syaAllah. 
Berikut ini fatwa dari Syaikh Fauzan mengenai TV, untuk renungan bersama..
Oleh: Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah 
Pertanyaan: Sebagian orang-orang yang baik memasukkan televisi ke dalam rumahnya dan dia mengatakan bahwa dia tidak ingin dituduh sebagai orang yang ekstrim, maka bagaimana bimbingan Anda?
Jawaban: Meninggalkan televisi bukan sikap ghuluw atau ekstrim, tetapi merupakan sikap kehati-hatian untuk menjaga agama, keluarga, dan anak-anak. Jadi hal itu merupakan upaya menjauhkan dari sebab-sebab yang akan membahayakan. Karena keberadaan televisi akan mengakibatkan bahaya terhadap anak dan istri, bahkan juga terhadap kepala rumah tangga. Siapa yang merasa dirinya aman dari fitnah?! Jadi semakin jauh seseorang dari sebab-sebab fitnah, maka hal itu jelas lebih baik bagi keadaannya sekarang dan akibatnya di belakang hari. Dan meninggalkan televisi bukan termasuk sikap ekstrim, tetapi termasuk upaya preventif atau penjagaan dan pencegahan dari keburukan.
(Al-Muntaqa min Fataawa Al-Fauzan,  no. 211.) Sumber: ahlussunnahkendari.com