Manusia hanya membicarakan tentang "zuhud" dan semuanya mengisyaratkan kepada perasaannya, menceritakan tentang keadaan dan penyaksiannya, maka kebanyakkan ibarat-ibarat kaum itulah ialah tentang perasaan-perasaan dan keadaan-keadaan mereka, dan perkataan dengan lisan ilmu; lebih luas daripada perkataan dengan lisan perasaan, serta lebih kepada hujah dan dalil.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Zuhud meninggalkan apa yang tidak berfaedah pada akhirat, dan warak: meninggalkan apa yang ditakuti mudharatnya di akhirat."
Sufyan At-Tsauri berkata: "Zuhud pada dunia pendek angan-angan, bukan dengan makanan yang kesat dan pakaian yang kasar, compang-camping."
Al-Junaid berkata, zuhud tidak bergembira dari dunia dengan wajahnya, dan tidak menyesal atas kehilangan daripadanya. Kekosongan hati dari apa yang tidak ada di tangan. Memandang kecil dunia dan menghapuskan kesan-kesannya dari hati, iaitu kekosongan tangan dari memiliki dan hati dari mencari.
Yahya bin Mu'az berkata: "Zuhud mewariskan kedermawaan dengan milik, dan kecintaan mewariskan kedermawaan dengan ruh." Iaitu harta tidak membuatnya lebih kikir, tetapi dengan harta yang lebih banyak ,dia berinfaq, jadi lebih dermawan. "Seseorang tidak mencapai hakikat zuhud sehingga ada padanya tiga perkara; amal tanpa hubungan, perkataan tanpa ketamakan, dan kemuliaan tanpa kepimpinan."
Ibnu Al-Jala' berkata: "Zuhud ialah memandang kepada dunia dengan pandangan kehilangan lalu ia kecil pada pandanganmu, maka mudah atasmu berpaling daripadanya." Iaitu berpaling dari dunia tanpa kepura-puraan."
Imam Ahmad berkata: "Zuhud pada dunia itu memendekkan angan angan. Tidak bergembira dengan kedatangannya, dan tidak bersedih atas kepergiannya." Apabila beliau ditanya tentang lelaki yang mempunyai seribu dirham, adakah dia zuhud? Lalu jawabnya: " Ya, dengan syarat tidak bergembira apabila ia bertambah dan tidak bersedih apabila ia berkurang."
Dia mengatakan zuhud itu ada 3 tingkatan;
1. Zuhud orang awam iaitu meninggalkan yang haram.
2. Zuhud orang khas iaitu meninggalkan kelebihan dari yang halal. (Berlebih lebih)
3. Zuhud orang al-'arifin iaitu meninggalkan apa yang melalaikan dari Allah.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Zuhud ialah meninggalkan apa saja yang dapat melalaikan daripada mengingati Allah" ..
Zuhud bukan bermaksud kita tidak boleh bekerja meraihkan gaji besar, tidak boleh berpakaian yang bagus dan memakan makanan yang baik baik, tetapi kenikmatan yang didapati tidak melalaikan hati dari mengingati Allah dan hati tidak tergantung pada dunia. Diri tidak disibukkan oleh harta yang kita miliki, sebaliknya berinfaq sebagian dari hartanya, lebih kaya lebih dermawaan.
Wallahu a'alam
Disaring dari kitab Madarij As-Salikin jilid 1, oleh Ibnu Qayyim
Para Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang paling banyak meriwayatkan hadits antara lain :
Abu Hurairah 5374 hadits
Ibnu Umar 2630 hadits
Anas bin Malik 2286 hadits
Aisyah Ummul Mukminin 2210 hadits
Ibnu ‘Abbas 1660 hadits
Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits
Para Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang melakukan pembukuan hadits antara lain :
1. Abdullah bin Amr bin Al-Ash (7-65H) : As-Shahifah As-Shadiqah
2. Abdullah bin Abbas (3-68H)
3. Jabir bin Abdillah Al-Anshari (16-78H) : As-Shahifah.
4. Hamam bin Munabbih (40-131H) : As-Shahifah As-Shahihah
Perintah Umar bin Abdul Aziz untuk memulai pembukuan dan pelembagaan hadist secara resmi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz inilah yang memelopori pembukuan dan pelembagaan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. secara resmi. Beliau memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Perintah Umar bin Abdul Aziz sebagai berikut “
Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu tulislah dia, karena sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dan wafatnya para ‘ulama , dan janganlah diterima kecuali hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” ( Bukhari (1/33) dan Ad-Daarimi (1/126))
Dan Ibnu Hazm selanjutnya menunjuk ulama besar yaitu Ibnu Syihab Az-Zuhri untuk melakukan pelembagaan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berdua merupakan thabaqat awal pembukuan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Hazm pulalah yang memulai dan mencetuskan ilmu Riwayatul hadits. Yakni suatu ilmu tentang meriwayatkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. perbuatan-perbuatannya, taqrir-taqrirnya dan sifat-sifatnya. Ilmu ini sifatnya lebih tertuju pada mengumpulkan hadits-hadits saja, tanpa memeriksa secara detail sah atau tidaknya yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Faedah-faedah Ilmu riwayatul hadits antara lain :
1. Supaya kita dapat membedakan mana yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mana yang disandarkan kepada selain beliau.
2. Agar supaya hadits tidak beredar dari mulut ke mulut atau dari satu tulisan ke tulisan lain tanpa sanad.
3. Agar dapat diketahui jumlah hadits yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
4. Agar dapat diperiksa sanad dan matannya sah atau tidak.
Nama-nama ‘ulama pencatat atau perawi hadits yang mu’tabar dari generasi Tabi’in antara lain :
1. Said Ibnul Musayyab (15-94H)
2. Urwah bin Zubair (22-94H)
3. Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (Wafat th.117H)
4. Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri (50-124H)
5. Imam Nafi’ (wafat 117H)
6. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah (Wafat 98H)
7. Salim bin Abdullah bin Umar (Wafat 106H)
8. Ibrahim bin Yazid An-Nakha’I (46-96H)
9. Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi (19-103H)
10. Alqamah bin Qais An-Nakha’i (28-62H)
11. Muhammad bin Sirrin (33-110H)
12. Ibnu Juraij Abdul Aziz bin Juraij (Wafat 150H)
13. Said bin ‘Arubah (Wafat 156H)
14. Al Auza’i (Wafat 156H)
15. Sufyan At-Tsauri (Wafat 161H)
16. Abdullah bin Mubaarak (118-181H)
17. Hammad bin Salamah (Wafat 176H)
18. Husyaim (Wafat 188H)
Nama-nama ‘ulama pencatat atau perawi hadits yang mu’tabar dari generasi Tabi’ut Tabi’in antara lain :
1. Bukhari (194-256H) Kitab : Al-Jaami’ush Shahih atau Shahih Bukhari
2. Muslim (204-261H) Kitab : Shahih Muslim
3. Abu Dawud (202-275H) Kitab : As-Sunan Abi Dawud
4. At-Tirmidzi (209-279H) Kitab : As-Sunan At-Tirmidzi
5. An-Nasa’i (215-303H) Kitab : As-Sunan An-Nasa’i
6. Ibnu Majah (207-275H) Kitab : As-Sunan Ibnu Majah
7. Malik bin Anas (90/93-169H) Kitab : Al-Muwatha’
8. Asy Syafi’iy (150-204H) Kitab : Al Um
9. Ahmad bin Hambal (164-241H) Kitab : Al Musnad Ahmad
10. Ibnu Khuzaimah (223-311H) Kitab : Shahih Ibnu Khuzaimah
11. Ibnu Hibban (—-354H) Kitab : Shahih Ibnu Hibban
12. Hakim (320-405H) Kitab : Al Mustadrak
13. Ad-Daaruquthni (306-385H) Kitab : Sunan Daaruquthni
14. Al Baihaqiy (384-458H) Kitab : Sunan Al-Kubra
15. Ad Daarimi (181-255H) Kitabnya Sunan Ad-Daarimi
16. Abu Dawud At-Thayaalisi (—-204H) Kitab : Musnad At-Thayalisi
17. Al Humaidiy (—219H) Kitab : Musnad Al-Humaidiy
18. Ath Thabrani (260-360H) Kitab : Mu’jam Al-Kabir, Mu’jam Al-Ausath, Mu’jam As-Shagir
19. Abdurrazzaaq (126-211H) Kitab :Mushannaf Abdurrazzaaq
20. Ibnu Abi Syaibah (—-235H) Kitab : Mushannaf Ibnu abi Syaibah
21. Abdullah bin Ahmad (203-209H) Kitab : Az-Zawaaidul Musnad
22. Ibnul Jaarud (—307H) Kitab : Al-Muntaqa
23. At-Thahaawi (239-321H) Kitab : Syarah Ma’aanil Atsar, Musykilul Atsar
24. Abu Ya’la (—307H) Kitab : Musnad Abu Ya’la
25. Abu ‘awaanah (—316H) Kitab : Shahih Abu ‘Awaanah
26. Said bin Manshur (—227H) Kitab : As Sunan Said bin Manshur
27. Ibnu Sunniy (—364H) Kitab : ‘Amalul Yaum wal lailah
28. Ibnu Abi ‘Ashim (—287H) Kitab : Kitabus Sunnah, Kitab Zuhud
Sumber:Ahlulhadist.wordpress.com
