SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....

April 21, 2013

Makna Zuhud disisi Salaf

Manusia hanya membicarakan tentang "zuhud" dan semuanya mengisyaratkan kepada perasaannya, menceritakan tentang keadaan dan penyaksiannya, maka kebanyakkan ibarat-ibarat kaum itulah ialah tentang perasaan-perasaan dan keadaan-keadaan mereka, dan perkataan dengan lisan ilmu; lebih luas daripada perkataan dengan lisan perasaan, serta lebih kepada hujah dan dalil.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Zuhud meninggalkan apa yang tidak berfaedah pada akhirat, dan warak: meninggalkan apa yang ditakuti mudharatnya di akhirat."

Sufyan At-Tsauri berkata: "Zuhud pada dunia pendek angan-angan, bukan dengan makanan yang kesat dan pakaian yang kasar, compang-camping."

Al-Junaid berkata, zuhud tidak bergembira dari dunia dengan wajahnya, dan tidak menyesal atas kehilangan daripadanya. Kekosongan hati dari apa yang tidak ada di tangan. Memandang kecil dunia dan menghapuskan kesan-kesannya dari hati, iaitu kekosongan tangan dari memiliki dan hati dari mencari.

Yahya bin Mu'az berkata: "Zuhud mewariskan kedermawaan dengan milik, dan kecintaan mewariskan kedermawaan dengan ruh." Iaitu harta tidak membuatnya lebih kikir, tetapi dengan harta yang lebih banyak ,dia berinfaq, jadi lebih dermawan. "Seseorang tidak mencapai hakikat zuhud sehingga ada padanya tiga perkara; amal tanpa hubungan, perkataan tanpa ketamakan, dan kemuliaan tanpa kepimpinan."

Ibnu Al-Jala'  berkata: "Zuhud ialah memandang kepada dunia dengan pandangan kehilangan lalu ia kecil pada pandanganmu, maka mudah atasmu berpaling daripadanya." Iaitu berpaling dari dunia tanpa kepura-puraan."

Imam Ahmad berkata: "Zuhud pada dunia itu memendekkan angan angan. Tidak bergembira dengan kedatangannya, dan tidak bersedih atas kepergiannya."  Apabila beliau ditanya tentang lelaki yang mempunyai seribu dirham, adakah dia zuhud? Lalu jawabnya: " Ya, dengan syarat tidak bergembira apabila ia bertambah dan tidak bersedih apabila ia berkurang."
Dia mengatakan zuhud itu ada 3 tingkatan;
1. Zuhud orang awam iaitu meninggalkan yang haram.
2. Zuhud orang khas iaitu meninggalkan kelebihan dari yang halal. (Berlebih lebih)
3. Zuhud orang al-'arifin iaitu meninggalkan apa yang melalaikan dari Allah.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Zuhud ialah meninggalkan apa saja yang dapat melalaikan daripada mengingati Allah" ..

Zuhud bukan bermaksud kita tidak boleh bekerja meraihkan gaji besar, tidak boleh berpakaian yang bagus dan memakan makanan yang baik baik, tetapi kenikmatan yang didapati tidak melalaikan hati dari mengingati Allah dan hati tidak tergantung pada dunia. Diri tidak disibukkan oleh harta yang kita miliki, sebaliknya berinfaq sebagian dari hartanya, lebih kaya lebih dermawaan.
Wallahu a'alam

Disaring dari kitab Madarij As-Salikin jilid 1, oleh Ibnu Qayyim

April 20, 2013

Jenis Ibadah yang di tinggalkan oleh Nabi

Jenis ibadah yang ditinggalkan Nabi shallallahu alaihiwassalam dan tidak dilaksanakan-nya walhal adanya keharusan untuk beliau melaksanakannya pada masanya maka mengerjakannya adalah bid'ah dan meninggalkannya adalah sunnah. Seperti perayaan Maulid Nabi, menghidupkan malam Isra' Mi'raj, perayaan Hijrah atau awal tahun dan semacamnya. Berdasarkan sabda Nabi,

"Siapa beramal satu perbuatan yang bukan dari kami maka tertolak." HR. Muslim 3/1344

Imam Malik berkata, "Apa saja yang pada saat itu bukan termasuk agama maka pada hari ini juga bukan termasuk agama."  Al-I'tisham 1/49


Imam Malik mengatakan, "Apakah setiap kali datang orang yang lebih pintar dalam berdebat lalu kita tinggalkan apa yang diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad kerana keahlian debat orang tersebut?"   Siyar A'lam an-Nubula:8/99; Syarafu Ashab al-Hadits, Khatib al-Baghdadi, hal5

Imam Taimiyyah berkata, "Meninggalkan sesuatu itu sunnah sebagaimana melaksanakan sesuatu juga adalah sunnah."  Fatawa  26/172

Ibnu Katsir berkata, "Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengatakan bahwa semua perbuatan dan perkataan yang tidak tetap dari sahabat maka itu adalah bid'ah. Karena jika itu adalah baik maka mereka akan mendahului kita."  Tafsir Ibnu Katsir 4/156

Betapa indah ucapan khalifah Rasyid Ali bin Abu Thalib, ketika berkata, "Berhati-hati kalian dari meniru-niru seseorang. Karena orang itu ada yang beramal dengan amal ahli Surga kemudian berbalik arah lalu beramal amalan ahli neraka sehingga mati sebagai ahli neraka. Dan boleh jadi seseorang itu beramal perbuatan ahli neraka kemudian beramal perbuatan ahli Surga sehingga dia mati termasuk ahli Surga. Maka jika kalian harus melakukannya tirulah mereka yang sudah mati jangan mereka yang masih hidup." Beliau menunjuk pada Rasullullah shallallahu alaihi wa salam dan sahabatnya.  Al-I'tisham 2/358.

Disalin dari buku Ittiba' Rasullah shallallahu alaihiwassalam oleh Dr Shalih bin Fauzan al-Fauzan

April 18, 2013

Taubatnya seorang penggali kubur

Berkata Abu Ishaq Al Fazari ia bercerita:

Ada seorang pria yang banyak duduk bersama kami dimana setengah dari wajahnya tertutup, maka aku berkata kepadanya,"Sesungguhnya kamu sering kali duduk bersama kami sementara setengah dari wajahmu tertutup, perlihatkanlah wajahmu itu kepadaku." Pemuda itu lalu berkata, "Dahulu aku adalah seorang penggali kuburan. Suatu saat dikuburkanlah seorang wanita, maka aku mendatangi kuburannya dan menggali nya hingga sampai pada batu bata. Aku mengangkat batu bata itu. Kemudian aku gerakan tanganku kearah surban, lalu aku arahkan tanganku ke kain kafan yang membalut tubuhnya. Akan tetapi wanita itu menarik kain kafannya, maka aku berkata, " Apakah wanita itu dapat mengalahkanku?" Maka aku membungkuk diatas kedua lututku lalu menariknya dan mengangkat tangannya, tiba tiba tangan itu menamparku."

Kemudian pria itu membuka penutup wajahnya, dan ternyata terdapat bekas lima jari diwajahnya.
Aku bertanya kepadanya, "Kemudian bagaimana?" Pria itu menjawab, "Kemudian aku mengembalikan kain kafan pembalutnya dan kain sarungnya, lalu aku mengembalikan tanah itu untuk menguburnya. Sejak itu aku telah berniat bahwa aku tidak akan menggali kuburan lagi selama hidupku."

Pria itu berkata, " Aku menulis surat tentang hal itu kepada Al Auza'i lalu beliau membalas suratku dengan berkata, 'Orang yang mati dari golongan pengikut tauhid maka wajahnya menghadap ke kiblat, sedangkan orang mati yang wajahnya dipalingkan dari kiblat, maka sengungguhnya ia mati tidak dalam Sunnah'."
Wallahu a'alam.
Disalin dari Kitabut Tawwabin, oleh Ibnu Qudamah, penerbit Darul Qasim, Riyadh.1421H

April 16, 2013

Mengenal Para Ulama Sekarang yang diatas Sunnah



Akan senantiasa ada sekelompok orang dari kalangan ummatku yang menegakkan/ berdiri di atas perintah Allah, tidak akan memadhorotkan mereka siapa yang menghina dan menyelisihi mereka sampai datang perkara Allah (yaitu hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan demikian“. [Muttafaqun 'alaih, hadits dari Mu'awiyah]
Para Ulama Sekarang Yang Berjalan Di Atas As-Sunnah Antara Lain:
‘Ulama Saudi Arabia:
  1. Al ‘Allamah asy Syaikh Muhammad Mukhtar Amin asy Syanqithiy– shohibut Tafsir adh wa’ul bayan. Beliau termasuk salah satu guru Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin
  2. Al ‘Allamah asy Syaikh Abdurrohman bin Nashir as Sa’di , pemilik kitab Tafsir Karimur Rohman fi Kalamil Mannan atau yang lebih dkenal Tafsir as Sa’diy
  3. Samahatusy Syaikh al ‘allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
  4. Faqihul zaman al ‘allamah asy Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin
  5. Al ‘allamah al muhaddits asy syaikh Adbul Muhsin bin Hammad al ‘Abbad al Badr, Beliau termasuk ulama senior saat ini, mengajar di Masjid Nabawi.
  6. Al ‘allamah asy Syaikh Doktor Sholih Fauzan al Fauzan anggota Haiah Kibarul ‘Ulama
  7. Al ‘allamah asy Syaikh Abdul Aziz bin sholih alu Syaikh mufti ‘Amm kerajaan Saudi Arabia saat ini
  8. Al ‘allamah al muhaddits asy Syaikh Yahya bin Ahmad an Najmi mufti kerajaan Saudi untuk daerah Selatan (Shoromithoh)
  9. Al ‘allamah al muhaddits asy syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkholy –pembawa bendera jarh wa ta’dil saat ini sebagaimana rekomendasi Syaikh al Albani
  10. Al ‘allamah asy syaikh Dr. Sholih bin Sa’ad as Suhaimy –Beliau dosen pascasarjana di Jami’ah al Islamiyyah Madinah
  11. Al ‘allamah asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholy –dosen jami’ah Islamiyyah Madinah
  12. Al ‘allamah asy Syaikh Dr. Ibrohim bin ‘Amir ar Rauhaily – penulis kitab “Mauqif Ahlis sunnah ‘an ahlil bida’” yang diterjemahkan dgn judul “Mauqif Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bid’ah” (ana lupa judul tepatnya)
  13. Asy Syaikh DR. Ali bin Nashir al faqihy – Guru Besar Aqidah di Masjid Nabawy
  14. Asy Syaikh Abdurrozaq bin Abdil Muhsin bin Hammad al ‘Abbad al badr - putra Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr (point no 3)
  15. Asy Syaikh Abdul Malik a Romadhoniy al Jazairy– Beliau yang menyiapkan majelis Syaikh Abdul Muhsin di Masjid Nabawi. Penulis buku “Madarik an Nazhor fi Siyasah…”diterjemahkan dgn judul “Pandangan Tajam thd Politik”
  16. Asy Syaikh Kholid ar Roddady –pentahqiq kitab Syarhus sunnah al barbahary
  17. Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al madkholy
  18. Asy Syaikh Abdulloh bin ‘Abdirrohman al Jibrin – termasuk ulama senior, sudah sepuh
  19. Asy Syaikh Ubaid al Jabiri
  20. asy Syaikh Abdul Aziz ar Rojihy
  21. Asy Syaikh Muhammad Aman Jamiy
  22. Fadhilatusy Syaikh Sholih bin Muhammad al Luhaidan ketua Mahkamah Tinggi dan anggota Hai’ah Kibarul Ulama
  23. Masyayikh anggota Majelis Ifta wal Buhuts dan anggota Kibarul Ulama
  24. Fadhilatusy Syaikh Bakar Abu –penulis kitab “Hukmul Intima’”
  25. asy Syaikh AbdusSalam bin Barjas -penulis Kitab “Hujjajul Qowwiyyah..”. Beliau sudah meninggal dalam kecelakaan mobil. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menempatkannya di kedudukan yang mulia di sisiNya.
‘Ulama dari Yaman:
  1. al ‘allamah al muhaddits ad diyar al yamaniyyah asy Syaikh Muqbil bin Hadi al wadi’iy;, Beliau termasuk ulama besar abad ini.
  2. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab al Washobi; beliau mungkin Syaikh yang dituakan di Yaman. Kalau datang ke Damaj, biasanya beliau Cuma menjawab pertanyaan2 dan sedikit memberi nasihat emasnya. Punya markas di Hudaidah.
  3. Asy Syaikh Muhammad Al Imam beliau termasuk Ahl Hill wal Aqd yang ditunjuk oleh Asy Syaikh Muqbil rahimahullah. Salah satu murid pertamanya Asy Syaikh Muqbil. Punya markas di Ma’bar merupakan markas terbesar ke 2 setelah Damaj.
  4. Syaikh Yahya al Hajury–Beliau yang menggantikan Syaikh Muqbil di Darul Hadits Dammaj
  5. Asy Syaikh Abdul Aziz Al Buro’i adalah termasuk salah satu masyaikh yang sangat keras terhadap Ahlul Bid’ah. Beliau mempunyai markas di Kota Ib.
  6. Asy Syaikh Abdullah bin Utsman dijuluki Khotibul Yamany karena beliau terkenal sangat pintar berorator. Nasihat2 beliau tentang maut, membuat mata tak bisa menahan airnya.
  7. Asy Syaikh Abdurrozaq punya markas di Dammar
  8. Asy Syaikh Abdul Musowwir termasuk masyaikh yang sudah cukup berumur. Dulu Asy Syaikh Yahya hafidhohullah belajar Syarh Ibn Aqil dengan beliau.
  9. asy Syaikh Abdulloh al Mar’iy dan Saudaranya asy Syaikh Abdurrohman al Mar’iy
Ulama dari Yordania
  1. al ‘Allamah al Muhaddits Nashirus sunnah asy Syaikh al Albani . Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz pernah berkata: Saya tidak mengetahui di bawah kolong langit saat ini orang yang lebih mengetahui hadits daripada Beliau (Syaikh al Albani)”.
  2. Syaikh Ali hasan al Halabiy tatkala Syaikh al Albani ditanya cucunya “Siapakah dua orang murid yang paling mengetahui tentang hadits“. Syaikh al Albani berkata: Abu Ishaq al Huwaini dan Ali Hasan al Halabiy.
  3. Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali, penulis kitab Limadza Ikhtartu Manhaj Salaf, Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, dll.
  4. Syaikh Muhammad Musa
  5. Syaikh Masyhur alu Salman
  6. Syaikh Husain ‘Uwaisyiah
Dan masih banyak lagi para ulama yang belum disebutkan disini.

Mengenal Para Ulama Ahlul Hadits


Pembukuan dan Kitab-Kitab Hadits


Para Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang paling banyak meriwayatkan hadits antara lain :


Abu Hurairah 5374 hadits
Ibnu Umar 2630 hadits
Anas bin Malik 2286 hadits
Aisyah Ummul Mukminin 2210 hadits
Ibnu ‘Abbas 1660 hadits
Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits


Para Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang melakukan pembukuan hadits antara lain :

1. Abdullah bin Amr bin Al-Ash (7-65H) : As-Shahifah As-Shadiqah
2. Abdullah bin Abbas (3-68H)
3. Jabir bin Abdillah Al-Anshari (16-78H) : As-Shahifah.
4. Hamam bin Munabbih (40-131H) : As-Shahifah As-Shahihah


Perintah Umar bin Abdul Aziz untuk memulai pembukuan dan pelembagaan hadist secara resmi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz inilah yang memelopori pembukuan dan pelembagaan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. secara resmi. Beliau memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Perintah Umar bin Abdul Aziz sebagai berikut “
Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu tulislah dia, karena sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dan wafatnya para ‘ulama , dan janganlah diterima kecuali hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” ( Bukhari (1/33) dan Ad-Daarimi (1/126))

Dan Ibnu Hazm selanjutnya menunjuk ulama besar yaitu Ibnu Syihab Az-Zuhri untuk melakukan pelembagaan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berdua merupakan thabaqat awal pembukuan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Hazm pulalah yang memulai dan mencetuskan ilmu Riwayatul hadits. Yakni suatu ilmu tentang meriwayatkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. perbuatan-perbuatannya, taqrir-taqrirnya dan sifat-sifatnya. Ilmu ini sifatnya lebih tertuju pada mengumpulkan hadits-hadits saja, tanpa memeriksa secara detail sah atau tidaknya yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Faedah-faedah Ilmu riwayatul hadits antara lain :

1. Supaya kita dapat membedakan mana yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mana yang disandarkan kepada selain beliau.
2. Agar supaya hadits tidak beredar dari mulut ke mulut atau dari satu tulisan ke tulisan lain tanpa sanad.
3. Agar dapat diketahui jumlah hadits yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
4. Agar dapat diperiksa sanad dan matannya sah atau tidak.


Nama-nama ‘ulama pencatat atau perawi hadits yang mu’tabar dari generasi Tabi’in antara lain :
1. Said Ibnul Musayyab (15-94H)
2. Urwah bin Zubair (22-94H)
3. Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (Wafat th.117H)
4. Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri (50-124H)
5. Imam Nafi’ (wafat 117H)
6. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah (Wafat 98H)
7. Salim bin Abdullah bin Umar (Wafat 106H)
8. Ibrahim bin Yazid An-Nakha’I (46-96H)
9. Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi (19-103H)
10. Alqamah bin Qais An-Nakha’i (28-62H)
11. Muhammad bin Sirrin (33-110H)
12. Ibnu Juraij Abdul Aziz bin Juraij (Wafat 150H)
13. Said bin ‘Arubah (Wafat 156H)
14. Al Auza’i (Wafat 156H)
15. Sufyan At-Tsauri (Wafat 161H)
16. Abdullah bin Mubaarak (118-181H)
17. Hammad bin Salamah (Wafat 176H)
18. Husyaim (Wafat 188H)

Nama-nama ‘ulama pencatat atau perawi hadits yang mu’tabar dari generasi Tabi’ut Tabi’in antara lain :

1. Bukhari (194-256H) Kitab : Al-Jaami’ush Shahih atau Shahih Bukhari
2. Muslim (204-261H) Kitab : Shahih Muslim
3. Abu Dawud (202-275H) Kitab : As-Sunan Abi Dawud
4. At-Tirmidzi (209-279H) Kitab : As-Sunan At-Tirmidzi
5. An-Nasa’i (215-303H) Kitab : As-Sunan An-Nasa’i
6. Ibnu Majah (207-275H) Kitab : As-Sunan Ibnu Majah
7. Malik bin Anas (90/93-169H) Kitab : Al-Muwatha’
8. Asy Syafi’iy (150-204H) Kitab : Al Um
9. Ahmad bin Hambal (164-241H) Kitab : Al Musnad Ahmad
10. Ibnu Khuzaimah (223-311H) Kitab : Shahih Ibnu Khuzaimah
11. Ibnu Hibban (—-354H) Kitab : Shahih Ibnu Hibban
12. Hakim (320-405H) Kitab : Al Mustadrak
13. Ad-Daaruquthni (306-385H) Kitab : Sunan Daaruquthni
14. Al Baihaqiy (384-458H) Kitab : Sunan Al-Kubra
15. Ad Daarimi (181-255H) Kitabnya Sunan Ad-Daarimi
16. Abu Dawud At-Thayaalisi (—-204H) Kitab : Musnad At-Thayalisi
17. Al Humaidiy (—219H) Kitab : Musnad Al-Humaidiy
18. Ath Thabrani (260-360H) Kitab : Mu’jam Al-Kabir, Mu’jam Al-Ausath, Mu’jam As-Shagir
19. Abdurrazzaaq (126-211H) Kitab :Mushannaf Abdurrazzaaq
20. Ibnu Abi Syaibah (—-235H) Kitab : Mushannaf Ibnu abi Syaibah
21. Abdullah bin Ahmad (203-209H) Kitab : Az-Zawaaidul Musnad
22. Ibnul Jaarud (—307H) Kitab : Al-Muntaqa
23. At-Thahaawi (239-321H) Kitab : Syarah Ma’aanil Atsar, Musykilul Atsar
24. Abu Ya’la (—307H) Kitab : Musnad Abu Ya’la
25. Abu ‘awaanah (—316H) Kitab : Shahih Abu ‘Awaanah
26. Said bin Manshur (—227H) Kitab : As Sunan Said bin Manshur
27. Ibnu Sunniy (—364H) Kitab : ‘Amalul Yaum wal lailah
28. Ibnu Abi ‘Ashim (—287H) Kitab : Kitabus Sunnah, Kitab Zuhud

Sumber:Ahlulhadist.wordpress.com