Merayakan hari hari tertentu telah menjadi satu kebudayaan didalam masharakat kita dan juga umat Islam keseluruhannya.
Kerana budaya ini telah menjadi satu tradisi yang sudah mendarah daging, maka kami rasa perlu menulis fatwa fatwa dari ulama muktabar yang sudah terkenal dengan ketakwaan, kewara'kan mereka. Semoga peringatan ini dapat memberi kemanfaatan untuk kita semuanya. Amiin.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya: Apa hukum merayakan hari ulang tahun?
Jawaban: Merayakan hai ulang tahun tidak ada dasarnya sama sekali didalam syariat yang suci ini, bahkan termasuk perbuatan bid'ah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihiwassalam :
"Barangsiapa mengada-ada dalam perkara (agama) kita ini yang bukan bagian darinya, maka perbuatan itu tertolak."
Dalam riwayat Muslim dan Shahih Imam al-Bukhari di sebutkan,
"Barangsiapa mengerjekan suatu perbuatan (dalam agama) yang tiada perintah dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak."
Yang telah diketahui bahwasanya Nabi shallallahu alaihissalam tidak pernah mengadakan perayaan ulang tahun selama hidupnya, tidak pernah memerintahkan pun dan para sahabat tidak ada yang melakukannya. Demikian pula para al-khulafaur rasyidun, tidak pernah mengerjakan perbuatan itu, padahal mereka adalah manusia paling tahu terhadap sunnah-sunnah Nabi dan manusia yang paling disukai Nabi serta paling gemar, mengikuti setiap apa yang diajarkan beliau. Demikian para ulama terdahulu, tidak ada yang mengerjakannya tidak pula memerintahkannya.
Dengan demikian dapat difahami bahwa perbuatan tersebut bukan dari syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu alaihiwassalam. Kami bersaksi atas Allah azzawajalla dan semua kaum Muslimin, seandainya beliau mengerjakannya dan memerintahkannya, niscaya kami akan mengerjakannya pula dan mengajak untuk mengerjakannya. Kerana kami, alhamdulillah paling senang, mengikuti Sunnahnya dan mengagungkan perintahnya. Kita mohonkan kepada Allah azzawajalla agar tetap teguh dalam kebenaran dan selamat dari apa yang menyalahi syariat Allah yang suci, sesungguhnya Dia Mahabaik dan Mahamulia..... Fatawal Mar'ah, 2/10. Dan Lajnah Daimah Lil Ifta'
*********
Perayaan ulang tahun ini berasal dari budaya penyembah dewa dewa...
Jalan Kebenaran Hanya Satu. “Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147) "Barangsiapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun." (HR Muslim)
SUARAKAN YANG HAQ UNTUK MENEGAKKAN YANG HAQ! KERANA YANG ADA HANYALAH YANG HAQ SEMATA ....
April 8, 2013
April 5, 2013
Hadits Dhaif tentang Hari Jumaat
"Rasulullah shallallahu alaihiwassalam memotong kuku dan menggunting (menipiskan) kumis beliau pada hari Jumat, sebelum pergi untuk shalat Jumat."
Hadits ini dhaif. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath (1/50) dengan jalur sanad dari Atiq bin Yaqub az-Zubarri, memberitakan kepada kami Ibrahim bin Qudamah dari Abi Abdillah al-Gharr dari Abu Hurairah radiyallahu anh secara marfu', kemudian mengatakan, " Tidak ada yang meriwayatkan dari al-Gharr kecuali hanya Ibrahim bin Qudamah."
Selain itu, dai jalur sanadnya diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dari periwayatan Atiq bin Yaqub seraya berkata, "Ibrahim tidaklah dapat dijadikan hujah." Adz-Dzahabi dalam al-Mizan juga mengatakan, "Ini berita munkar,"
Sila rujuk pembahasan yang panjang oleh Syaikh al-Albani dalam bukunya Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu' Jilid 3, hadits no. 1112
Hadits ini dhaif. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath (1/50) dengan jalur sanad dari Atiq bin Yaqub az-Zubarri, memberitakan kepada kami Ibrahim bin Qudamah dari Abi Abdillah al-Gharr dari Abu Hurairah radiyallahu anh secara marfu', kemudian mengatakan, " Tidak ada yang meriwayatkan dari al-Gharr kecuali hanya Ibrahim bin Qudamah."
Selain itu, dai jalur sanadnya diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dari periwayatan Atiq bin Yaqub seraya berkata, "Ibrahim tidaklah dapat dijadikan hujah." Adz-Dzahabi dalam al-Mizan juga mengatakan, "Ini berita munkar,"
Sila rujuk pembahasan yang panjang oleh Syaikh al-Albani dalam bukunya Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu' Jilid 3, hadits no. 1112
Hadits Dhaif 'Ketika Nabi Berhijrah ke Madina...
"Ketika Rasulullah shallallahu alaihiwassalam berhijrah ke Madina, para wanita Anshar dan anak-anak mereka menyanyikan syair sebagai berikut:
' Telah muncul rembulan diatas kita, dari celah bukit Tsaniyyatil wada'. Wajiblah atas kita untuk bershukur, akan segala seruan untuk Allah oleh sang penyeru (Rasulullah)."
Telah diriwayatkan oleh Abul Hasan al- Khal'i dalam al-Fawaid (11/59), Imam Baihaqi dalam kitab Dala'il an- Nubuwwah (11/233), dengan sanad dai Fadhil bin al-Hibab yang mendengar dari Abdullah bin Muhammad bin Aisyah mengatakan seperti ini.
Shaikh al-Albani mengatakan sanad riwayat ini dhaif. Kendatipun rijal sanadnya kuat, tetapi mu'dhal atau tidak bersambung (gugur) dua atau tiga sanadnya. Ibnu Aisyah ini adalah seorang guru Imam Ahmad. Dalam riwayat ini telah meng-irsal-kan (menisbatkan riwayat ini kepada Nabi). Inilah yang di riwayatkan oleh al-hafidz Iraqi dalam mengecam sanad riwayat ini.
Ada satu polemik dikalangan para penyelidik tentang syair penyambutan kedatangan Rasulullah shallallahu alaihiwassalam di darul- hijrah ( yakni Madinah al- Munawarrah) ini. Bagi yang berkeinginan untuk mengetahui, silakan merujuk kitab Zadul-Ma'ad karangan Ibnu Qayyim (Jilid 111, hlm 13). Wallahu a'alam
' Telah muncul rembulan diatas kita, dari celah bukit Tsaniyyatil wada'. Wajiblah atas kita untuk bershukur, akan segala seruan untuk Allah oleh sang penyeru (Rasulullah)."
Telah diriwayatkan oleh Abul Hasan al- Khal'i dalam al-Fawaid (11/59), Imam Baihaqi dalam kitab Dala'il an- Nubuwwah (11/233), dengan sanad dai Fadhil bin al-Hibab yang mendengar dari Abdullah bin Muhammad bin Aisyah mengatakan seperti ini.
Shaikh al-Albani mengatakan sanad riwayat ini dhaif. Kendatipun rijal sanadnya kuat, tetapi mu'dhal atau tidak bersambung (gugur) dua atau tiga sanadnya. Ibnu Aisyah ini adalah seorang guru Imam Ahmad. Dalam riwayat ini telah meng-irsal-kan (menisbatkan riwayat ini kepada Nabi). Inilah yang di riwayatkan oleh al-hafidz Iraqi dalam mengecam sanad riwayat ini.
Ada satu polemik dikalangan para penyelidik tentang syair penyambutan kedatangan Rasulullah shallallahu alaihiwassalam di darul- hijrah ( yakni Madinah al- Munawarrah) ini. Bagi yang berkeinginan untuk mengetahui, silakan merujuk kitab Zadul-Ma'ad karangan Ibnu Qayyim (Jilid 111, hlm 13). Wallahu a'alam
April 4, 2013
Nasehat untuk penuntut ilmu, oleh Syaikh Utsaimin
Identiti seorang Muslim adalah ta'at dan takwa kepada Allah Ta'ala dan cinta perdamaian. Wahai para penuntut ilmu, semoga Allah memberikan barakah pada diri dan ilmumu, tuntutlah dan amalkanlah, kemudian dakwahkanlah sesuai dengan cara para ulama Salaf.
Janganlah engkau suka keluar masuk dalam berbagai jema'ah kerana berarti engkau akan keluar dari tempat yang lapang menuju sebuah tempat yang sempit. Semua yang ada dalam Islam merupakan manhaj hidup; kaum Muslimin adalah satu jama'ah; dan tangan Allah berserta jamaah. Dalam Islam tidak dikenal sistem fanatisme golongan. Saya berlindung pada Allah dan berdoa kepada-Nya agar jangan sampai kalian berpecah belah sehingga kalian akan menjadi mangsa berbagai kelompok, golongan dan mazhab batil, yang dengan semua itu engkau memasang bendera wala' dan bara'.
Jadilah seorang Muslim yang sesungguhnya; mengikuti atsar, meneladani Sunnah, dan berdakwah atas dasar bashirah ilmu dengan tetap mengakui keutamaan para ulama yang terdahulu. Fanatisme golongan mempunyai sistem dan cara tersendiri yang belum pernah dikenal oleh para ulama Salaf. Ini adalah penghalang terbesar untuk menuntut ilmu, dan mampu memecah belah persatuan umat Islam. Sudah berapa banyak fanatisme golongan mampu melemahkan kekuatan dan persatuan umat Islam serta menjadikan banyak kesengsaraan bagi kaum Muslimin? Oleh kerana itu berhati-hati lah dari fanatisme golongan yang sudah banyak kejahatan dan keburukannya. Berbagai golongan itu tidak ada bezanya dengan paralon saluran air yang hanya dapat mengumpulkan air kotor, lalu membuangnya begitu saja.
Hanya orang yang dirahmati Allah yang dapat tetap berpegang teguh dengan manhaj Rasulullah dan para Sahabatnya.
Ibnu Qayyim tatkala menerangkan ciri-ciri ahli ibadah mengatakan: "Ciri yang kedua bahwa mereka tidak menisbatkan diri dengan sebuah nama tertentu. Maksudnya, tidaklah mereka dikenal oleh masharakat dengan sebuah nama tertentu, yang sudah menjadi lambang bagi ahli tariqat shufiyyah. Juga termasuk ciri mereka adalah tidak terikat amal tertentu yang akhirnya mereka akan dikenal dengan amal tersebut. Ini semua adalah cacat dalam beribadah dikeranakan ibadah itu hanya bersifat sektoral.
Adapun orang yang melakukan ibadah secara kaffah, dia tidak akan pernah dikenal dengan salah satu ibadah saja kerana dia memenuhi panggilan semua bentuk ibadah. Dia bisa memberikan sumbangsih pada semua sektor ibadah. Dia tidak terikat dengan simbol, nama, baju, sistem dan cara tertentu. Bahkan kalau ditanya tentang siapa gurunya? Dia menjawab: "Rasulullah shallallahu alaihi wassalam". Manhajnya? Dia menjawab: "ittiba' mengikuti jejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam." Pakaiannya? Dia menjawab: "Pakaian ketakwaan" . Mazhabnya? Dia menjawab: "Menghukumi dengan Sunnah Rasullullah." Tujuan dan harapannya? Dia menjawab: "Menginginkan wajah Allah." Tentang perjuangannya? Dia menjawab:
" Bertasbih kepada Allah di masjid- masjid yang telah diperintahkan untuk di muliakan dan disebut nama-Nya didalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat......). QS. An-Nuur :36-37.
Kemudian beliau berkata: "Merekalah simpanan Allah dimana pun mereka berada." Ahli ibadah yang kaffah tadi tatkala tertutupi dari pandangan orang lain, mereka tidak dipandang penting.
Seorang ulama pernah ditanya tenang nama lain dari Sunnah. Maka beliau menjawab: "Tidak mempunyai nama lain, kecuali as-Sunnah." Maksudnya, Ahlus Sunnah tidaklah mempunyai nama lain yang mereka menisbatkan diri kepadanya, melainkan hanya as-Sunnah.
Sebagian orang ada yang terikat dengan cara berpakaian yang khusus, tempat yang khusus, dan juga menjalankan ibadah tertentu yang ia tidak akan melakukan ibadah lainnya meskipun lebih tinggi derajatnya. Ada juga yang terikat dengan guru tertentu yang ia tidak akan pernah belajar kepada yang lain meskipun guru lain itu lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Merek semua terhalang mendapatkan darjat yang tinggi. Mereka telah terikat dengan adat, sistem, keadaan dan istilah istilah tertentu yang menghalangi mereka dari ittiba' secara murni. Maka, mereka pun meninggalkannya. Kedudukan mereka paling jauh dari ittiba'. Engkau akan melihat sebagian mereka beribadah kepada Allah dengan cara riyadhah, menyendiri dan mengosongkan hati. Orang ini menganggap bahwa menuntut ilmu akan memutuskan jalan beribadah. Apabila disampaikan kepadanya tentang mencintai kerana Allah dan memusuhi karena Allah, memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran, dia akan menganggap ini sesuatu yang jelek.
Bila dia fanatik kepada kelompok tertentu, dia menetapkan manhaj kelompoknya, lalu mencari-cari dalil untuk mendukung pendapatnya, yang malahan terkadang dalil itu membantah pendapatnya sendiri. Dia menyesatkan orang yang tidak masuk kelompoknya meskipun merekalah sebenarnya orang yang lebih dekat kepada kebenaran.
"Umat Islam tidak punya identiti kecuali keislamannya."
Di petik dari buku 'Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu.' Oleh Syaikh Utsaimin.
Janganlah engkau suka keluar masuk dalam berbagai jema'ah kerana berarti engkau akan keluar dari tempat yang lapang menuju sebuah tempat yang sempit. Semua yang ada dalam Islam merupakan manhaj hidup; kaum Muslimin adalah satu jama'ah; dan tangan Allah berserta jamaah. Dalam Islam tidak dikenal sistem fanatisme golongan. Saya berlindung pada Allah dan berdoa kepada-Nya agar jangan sampai kalian berpecah belah sehingga kalian akan menjadi mangsa berbagai kelompok, golongan dan mazhab batil, yang dengan semua itu engkau memasang bendera wala' dan bara'.
Jadilah seorang Muslim yang sesungguhnya; mengikuti atsar, meneladani Sunnah, dan berdakwah atas dasar bashirah ilmu dengan tetap mengakui keutamaan para ulama yang terdahulu. Fanatisme golongan mempunyai sistem dan cara tersendiri yang belum pernah dikenal oleh para ulama Salaf. Ini adalah penghalang terbesar untuk menuntut ilmu, dan mampu memecah belah persatuan umat Islam. Sudah berapa banyak fanatisme golongan mampu melemahkan kekuatan dan persatuan umat Islam serta menjadikan banyak kesengsaraan bagi kaum Muslimin? Oleh kerana itu berhati-hati lah dari fanatisme golongan yang sudah banyak kejahatan dan keburukannya. Berbagai golongan itu tidak ada bezanya dengan paralon saluran air yang hanya dapat mengumpulkan air kotor, lalu membuangnya begitu saja.
Hanya orang yang dirahmati Allah yang dapat tetap berpegang teguh dengan manhaj Rasulullah dan para Sahabatnya.
Ibnu Qayyim tatkala menerangkan ciri-ciri ahli ibadah mengatakan: "Ciri yang kedua bahwa mereka tidak menisbatkan diri dengan sebuah nama tertentu. Maksudnya, tidaklah mereka dikenal oleh masharakat dengan sebuah nama tertentu, yang sudah menjadi lambang bagi ahli tariqat shufiyyah. Juga termasuk ciri mereka adalah tidak terikat amal tertentu yang akhirnya mereka akan dikenal dengan amal tersebut. Ini semua adalah cacat dalam beribadah dikeranakan ibadah itu hanya bersifat sektoral.
Adapun orang yang melakukan ibadah secara kaffah, dia tidak akan pernah dikenal dengan salah satu ibadah saja kerana dia memenuhi panggilan semua bentuk ibadah. Dia bisa memberikan sumbangsih pada semua sektor ibadah. Dia tidak terikat dengan simbol, nama, baju, sistem dan cara tertentu. Bahkan kalau ditanya tentang siapa gurunya? Dia menjawab: "Rasulullah shallallahu alaihi wassalam". Manhajnya? Dia menjawab: "ittiba' mengikuti jejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam." Pakaiannya? Dia menjawab: "Pakaian ketakwaan" . Mazhabnya? Dia menjawab: "Menghukumi dengan Sunnah Rasullullah." Tujuan dan harapannya? Dia menjawab: "Menginginkan wajah Allah." Tentang perjuangannya? Dia menjawab:
" Bertasbih kepada Allah di masjid- masjid yang telah diperintahkan untuk di muliakan dan disebut nama-Nya didalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat......). QS. An-Nuur :36-37.
Kemudian beliau berkata: "Merekalah simpanan Allah dimana pun mereka berada." Ahli ibadah yang kaffah tadi tatkala tertutupi dari pandangan orang lain, mereka tidak dipandang penting.
Seorang ulama pernah ditanya tenang nama lain dari Sunnah. Maka beliau menjawab: "Tidak mempunyai nama lain, kecuali as-Sunnah." Maksudnya, Ahlus Sunnah tidaklah mempunyai nama lain yang mereka menisbatkan diri kepadanya, melainkan hanya as-Sunnah.
Sebagian orang ada yang terikat dengan cara berpakaian yang khusus, tempat yang khusus, dan juga menjalankan ibadah tertentu yang ia tidak akan melakukan ibadah lainnya meskipun lebih tinggi derajatnya. Ada juga yang terikat dengan guru tertentu yang ia tidak akan pernah belajar kepada yang lain meskipun guru lain itu lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Merek semua terhalang mendapatkan darjat yang tinggi. Mereka telah terikat dengan adat, sistem, keadaan dan istilah istilah tertentu yang menghalangi mereka dari ittiba' secara murni. Maka, mereka pun meninggalkannya. Kedudukan mereka paling jauh dari ittiba'. Engkau akan melihat sebagian mereka beribadah kepada Allah dengan cara riyadhah, menyendiri dan mengosongkan hati. Orang ini menganggap bahwa menuntut ilmu akan memutuskan jalan beribadah. Apabila disampaikan kepadanya tentang mencintai kerana Allah dan memusuhi karena Allah, memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran, dia akan menganggap ini sesuatu yang jelek.
Bila dia fanatik kepada kelompok tertentu, dia menetapkan manhaj kelompoknya, lalu mencari-cari dalil untuk mendukung pendapatnya, yang malahan terkadang dalil itu membantah pendapatnya sendiri. Dia menyesatkan orang yang tidak masuk kelompoknya meskipun merekalah sebenarnya orang yang lebih dekat kepada kebenaran.
"Umat Islam tidak punya identiti kecuali keislamannya."
Di petik dari buku 'Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu.' Oleh Syaikh Utsaimin.
April 2, 2013
Hikmah dilarangnya shalat sunnah disemua waktu
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang hikmah dilarangnya shalat Sunnah di semua waktu:
"Larangan menjalankan shalat Sunnah di sebagian waktu terdapat banyak manfaatnya, iaitu untuk mengistirahatkan jiwa beberapa saat dari penatnya ibadah sebagaimana boleh juga isirahat dengan tidur atau lainnya.
Oleh kerana itu, Mu'az bin Jabal berkata: sesungguhnya aku mengharapkan pahala dengan tidurku sebagaimana aku mengharap pahala saat aku terjaga."
Lihat Majmu'ul Fataawaa (XX111/187)
Syaikhul Islam juga berkata: "Bahkan, termasuk hikmah larangan , menjalankan shalat Sunnah di sebagian waktu adalah untuk mengistirahatkan jiwa saat waktu terlarang agar jiwa dapat semangat lagi saat menjalankan shalat. Kerana, jiwa itu akan bersemangat untuk menjalankan ibadah yang tadinya dilarang, juga rajin menjalankan shalat setelah beristirahat.
Wallahu a'lam.
Majmu'ul Fataawaa (XX111/217)
"Larangan menjalankan shalat Sunnah di sebagian waktu terdapat banyak manfaatnya, iaitu untuk mengistirahatkan jiwa beberapa saat dari penatnya ibadah sebagaimana boleh juga isirahat dengan tidur atau lainnya.
Oleh kerana itu, Mu'az bin Jabal berkata: sesungguhnya aku mengharapkan pahala dengan tidurku sebagaimana aku mengharap pahala saat aku terjaga."
Lihat Majmu'ul Fataawaa (XX111/187)
Syaikhul Islam juga berkata: "Bahkan, termasuk hikmah larangan , menjalankan shalat Sunnah di sebagian waktu adalah untuk mengistirahatkan jiwa saat waktu terlarang agar jiwa dapat semangat lagi saat menjalankan shalat. Kerana, jiwa itu akan bersemangat untuk menjalankan ibadah yang tadinya dilarang, juga rajin menjalankan shalat setelah beristirahat.
Wallahu a'lam.
Majmu'ul Fataawaa (XX111/217)
Subscribe to:
Posts (Atom)